0

HIV, Apa Tuh?

HIV adalah kependekan dari Human immunodeficiency Virus adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun. HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan.

Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:

Tahap 1: Periode Jendela
– HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
– Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
– Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
– Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu – 6 bulan

Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
– HIV berkembang biak dalam tubuh
– Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
– Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
-Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
– Sistem kekebalan tubuh semakin turun
– Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
– Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

Tahap 4: AIDS
– Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
– berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

GEJALA

Terdapat 5 stadium penyakit AIDS, yaitu

1. Gejala awal stadium infeksi yaitu :

Demam, kelemahan, nyeri sendi menyerupai influenza/nyeri tenggorokan, pembesaran kelenjaran getah bening.

2. Stadium tanpa gejala: stadium dimana penderita nampak sehat, namun dapat merupakan sumber penularan infeksi HIV.

3. Gejala stadium ARC:

– Demam lebih dari 38°C secara berkala atau terus

– Menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan

– Pembesaran kelenjar getah bening

– Diare mencret yang berkala atau terus menerus dalam waktu yang lama tanpa sebab yang jelas

– Kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik

4. Gejala AIDS:

– Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh darah kapiler) juga adanya kanker kelenjar getah bening.

– Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya pneomonia, pneumocystis,TBC, serta penyakit infeksi lainnya seperti teksoplasmosis dsb.

5. Gejala gangguan susunan saraf:

– Lupa ingatan

– Kesadaran menurun

– Perubahan Kepribadian

– Gejala–gejala peradangan otak atau selaput otak

– Kelumpuhan

Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di: http://id.wikipedia.org/wiki/HIV

Atau, kamu bisa membaca perkembangan seputar HIV lewat akun-akun twitter berikut ini:

@fighthivindc@HIVForum@CDC_HIVAIDS@aidsactions@HIVStoryProject,

@AIDS_United,  @AIDSmeds@AIDSConnect@AIDSHealthcare@GreaterThanAIDS,

@TheHIVTrap ‏@UNAIDSciencenow‏@AIDSinfo.

Ada beberapa bacaan yang bisa kamu pelajari buat nambah wawasan tentang HIV:

– New draft recommendations for HIV testing http://trap.it/qLJCBB

– Dari @MinorityHealth: People who are living with HIV can find the info they need about flu season here: http://www.cdc.gov/flu/protect/hiv-flu.htm

– Apakah ada perbedaan jenis-jenis test HIV? Pelajari disini: http://www.cdc.gov/flu/protect/hiv-flu.htm

– Kasus bayi yang lahir dengan HIV dapat disembuhkan: http://health.kompas.com/read/2013/03/04/12011455/Bayi.Lahir.dengan.HIV.Berhasil.Disembuhkan

dan sains dibaliknya: http://sains.kompas.com/read/2013/03/04/17514065/Sains.di.Balik.Bayi.yang.Sembuh.dari.HIV

– Dari @AIDSinfo: Learn more about the educational materials offered by @AIDSinfo, including fact sheets and our HIV/AIDS glossary: http://aidsinfo.nih.gov/education-materials and learn about nutrition/food safety for HIV-infected people on our Health Topics page: http://aidsinfo.nih.gov/hiv-aids-health-topics/77/nutrition-food-safety

– Dari @TIMEHealthland: Though more teens are aware of AIDS, too few know their own HIV status: http://healthland.time.com/2012/11/28/youth-more-aware-of-aids-but-too-many-still-dont-know-their-hiv-status/

– Are you looking for info on how to reduce the risk of transmitting HIV to your baby? http://aidsinfo.nih.gov/contentfiles/Perinatal_FS_en.pdf

Silahkan dibaca, semoga bermanfaat 😀

Sumber: http://hanifatunnisaa.wordpress.com/2012/08/24/definisi-sejarah-gejala-cara-penularan-dan-pencegahan-penyakit-hiv-aids/

HIV-ribbon

0

Iris Biru.

Iris Biru

 

            Ibu selalu bilang bahwa hujan adalah pertanda. Entah baik atau pun buruk. Ibu sendiri sebenarnya tidak percaya, hujan kan rezeki dari Tuhan, tetapi sugestid ari nenek terus saja melekat pada ibu. Katanya, mitos itu turun-temurun selalu diceritakan kepada keluarga, seperti ibu yang sekarang secara tidak langsung ikut menanamkan sugesti padaku. Maka dari itu, tiap hujan turun, kami sekeluarga pasti akan menduga-duga apa yang akan terjadi setelahnya. Agak tidak masuk akal memang, tetapi sugesti itu ternyata sulit sekali dihilangkan. Walaupun setahuku mitos tidak pernah melambangkan pertanda baik atau buruk, paling-paling hanya, jika turun hujan tetapi cuaca cerah berarti sedang ada kuntilanak melahirkan. He? Orang sudah meninggal kok bisa melahirkan lagi? Tidak masuk akal. Ibu bilang hujan juga turun saat nenek meninggal, yang menandakan hujan saat itu menandakan pertanda buruk. Aku ingat sekali aku menangis sejadi-jadinya, tak rela melihat jasad nenek ditimbun tanah. Sejak saat itu pula, sugesti itu makin kuat, bahwa hujan memang melambangkan pertanda buruk.

Sama seperti hari ini. Hari ini sedang hujan, disertai angin kencang dan petir yang tak henti-hentinya menyambar, pikiranku sudah menebak-nebak pertanda apakah ini. Tiba-tiba, seorang lelaki gemuk, dengan kumis tebalnya yang sudah mulai memutih, membuka pintu kelasku. Pak Gunawan, namanya. Ia adalah kepala sekolahku. Rupanya, ia tak sendiri, ia bersama 2 lelaki. Satunya bertubuh tegap dengan wajah sangar, dengan seragamnya yang seperti seragam tentara. Dan, satunya lagi bertubuh tinggi dan agak gemuk, tapi tampan. Ada satu kejanggalan di mata lelaki bertubuh tinggi ini. Tatapan matanya kosong. Seolah jiawanya sedang berada di tempat lain, sekalipun raganya sedang berhadapan denganku.

“Permisi, Ibu. Saya hendak mengantarkan seorang murid baru, pindahan dari Jakarta.

Namanya Asha Abhirama.” ujar kepala sekolahku.

‘Wah, nama yang bagus.’ ujarku dalam hati.

“Asha, ayo, perkenalkan dirimu.” suruh lelaki bertubuh tegap.

“Aku…Asha.” sembari menggoyangkan tubuhnya dan memainkan bunga-bunga kering yang ia genggam.

“Beritahu mereka kapan kamu lahir.” lanjut lelaki bertubuh tegap.

Ada kejanggalan luar biasa melihat seorang murid baru yang tatapan matanya kosong, yang memainkan bunga kering saat sesi perkenalan baru saja dimulai, yang selalu ditemani seorang…uhm, entahlah, nampak seperti seorang ajudan? Dan harus selalu menerima perintah terlebih dahulu dari  sang lelaki bertubuh tegap. Ada sesuatu yang aneh dengan murid baru ini. Apa dia sakit? Pikirku, bertanya-tanya sendiri.

Melihat wajahku yang berkerut bingung daritadi, sang lelaki bertubuh tegap menghampiriku dan berbisik,

“Maaf, Asha adalah anak autis. Tapi tenang saja, kau tidak perlu khawatir, aku menjaganya.”

GLEK. Seorang anak autis. Bersekolah di sekolah yang sama denganku. Ditempatkan di kelas yang sama denganku. Aku menggebrak mejaku pelan, menghampiri sang kepala sekolah. Belum sempat aku bicara, ia sudah menyuruhku untuk keluar.

“Ayo, kita bicarakan di ruang bapak saja.”

Aku benar-benar marah. Aku bahkan tidak mau duduk di ruang kepala sekolah. Aku tetap berdiri. Sepertinya, ia menyadari bahwa perbuatannya telah membuat salah satu muridnya marah besar. Dan, memaklumi tingkah laku muridnya yang tergolong kurang sopan ini.

“Bapak tahu…bapak tahu…maafkan bapak.”

“Bapak menerima seorang anak autis di sebuah sekolah ‘normal’? Apa yang sebenarnya bapak pikirkan?!”

“Sabar, dengarlah penjelasan bapak. Kau tahu, ibunya benar-benar sudah kehilangan harapan. Tidak ada satu sekolah pun yang mau menerimanya.”

“Tentu saja! Anak seperti dia sudah seharusnya disekolahkan di sekolah berkebutuhan khusus.”

“Dari kecil, Asha sudah disekolahkan disana, nak. Tetapi, tetap saja, saat ia sudah berada di lingkungan ‘normal’, ia diajuhi oleh masyarakat. Seolah anak autis menyeramkan dan tak pantas ditemani. Tapi ibunya makin sadar bahwa Asha tak selamanya harus begitu. Asha tetap harus mandiri. Asha harus belajar bersosialisasi dengan orang-orang ‘normal’ agar jika tiba waktunya orang tuanya tidak dapat mengurusnya lagi, ia bisa berdiri sendiri.”

“Apa bapak tidak memikirkan konsekuensi akibat keputusan yang bapak ambil ini?”

“Bapak tahu, bapak sudah memperkirakannya dari awal. Akan banyak guru-guru, wali murid, dan dari kalangan murid-murid sendiri yang menentang keputusan bapak. Tapi, tidak ada salahnya memberi kesempatan, kan? Sekarang kembali lah ke kelasmu, belajar yang benar. Ajudan Asha sudah memastikan bahwa Asha tidak akan mengganggu kalian.”

Dengan kesal, aku melangkah keluar. Sembari tetap mengomel. Apa kepala sekolahku gila? Apa aku disamakan dengan seorang anak autis? Konyol. Hujan hari ini kuresmikan sebagai pertanda buruk. Anak autis itu datang, ini benar-benar buruk.

Asha duduk persis bersebrangan dengan bangkuku. Dengan ketus, aku berkata,

“Sana. Aku mau duduk.”

Dia hanya tertawa. Ajudannya dari kejauhan memandangiku dengan sorot mata tajam. Mungkin takut tiba-tiba aku mendorongnya, atau ia yang mendorongku. Entahlah, mungkin ajudannya sama anehnya dengan Asha. Kutatap balik pandangannya, lebih tajam. Sampai akhirnya ia yang lebih dulu memalingkan wajah dariku.

“Apa yang kau bicarakan dengan kepala sekolah?” tanya teman sebangkuku.

“Kau tahu tidak, Asha adalah seorang anak autis.” bisikku dengan wajah cemberut.

“Hah?! Yang benar saja? Bagaimana bisa…”

Sudah bisa dipastikan reaksi teman-temanku akan sama seperti diriku. Kaget. Semua orang akan tercengang mendengar berita ini. Sesekali kulirik Asha yang duduk pas bersebrangan denganku.

“Dasar autis.”

Di saat pelajaran berlangsung, Asha hanya diam. Tidak banyak bicara.

“Sekarang kita bahas tentang kekaisaran Romawi, siapakah kaisar pertama Romawi?” tanya guru sejarahku.

Sekelas hening. Malah asyik bermain sendiri, ada yang mengunyah permen karet, membaca komik atau tertidur. Asha tertawa dan menjawab,

“Oktavianus, bu!” lalu tertawa lagi.

Setelah itu, dia keluar kelas. Tanpa izin pada guru yang sedang mengajar. Sang ajudan mengikutinya dari belakang. Apa yang sebenarnya ia tertawakan? Anak aneh. Ya, walaupun ia pintar, tapi sayang, menyebalkan. Oh, dan seperti yang aku sebutkan tadi, aneh. Sangaaaaat aneh.

***

            Tiap harinya, aku selalu bersikap ketus pada Asha. Menatapnya saja enggan. Malah, aku sengaja berganti posisi duduk agar tidak perlu duduk berdekatan dengan Asha. Autis menyeramkan. Tidak bisa dikontrol. Pernah sekali anak-anak lelaki di kelas mengganggunya, ia marah besar. Ia membanting apapun yang ada di atas meja. Autis selalu bertindak sesuka hati. Menyebalkan. Berisik. Omongannya selalu saja hal-hal yang sama. Tertawa terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya menurutku sama sekali tidak lucu. Daniel Gotlieb pernah menulis sebuah buku berjudul Letters To Sam, ia mengatakan bahwa kebanyakan orang melihat anak autis sebagai masalah, masalah besar. Bukan manusia. Tapi, tidak, aku tidak mengatakan bahwa ia bukan manusia. Hanya…ah, entahlah, ada perasaan kesal dari awal dia masuk ke sekolah. Tidak seharusnya ia berada disini. Tempatku dan tempatnya sudah jelas harus berbeda. Aku ‘normal’, dan dia autis. Berbeda, kan?

***

2 bulan berlalu. Aku sama sekali tidak berbicara pada Asha. Malas. Lagipula, apa yang dapat dibicarakan dengan seorang anak autis? Namun, suatu hari, Asha tiba-tiba duduk di sampingku. Tetap seperti biasanya, memainkan bunga kering yang entah ia dapat darimana. Pernah sekali aku melihatnya membawa bunga, tetapi bukan bunga kering, warnanya biru. Cantik. Kemungkinan bunga itulah yang lama kelamaan layu dan menjadi kering.

“Maafin Asha ya, Aruna.” katanya.

“Lho? Memang kamu salah apa?” sengaja kujebak dengan pertanyaan seperti itu, benarkah dia menyadari kesalahannya? Ataukah ia sedang bermain drama?

“Kata mama, banyak orang yang tidak bisa menerima Asha. Kata mas Reza, Aruna marah karena Asha bersekolah disini.”

“Mas Reza itu siapa?”

Ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah sang ajudan bertubuh tegap yang sedang berdiri di depan pintu itu. Ooh, namanya mas Reza. Baru sadar bahwa aku benar-benar tidak pernah membuat kontak dengan mereka berdua. Bagaimana bisa membuat kontak jika memandangnya saja aku sudah naik darah.

“Kamu tahu darimana namaku Aruna?”

Ia berbicara dengan terbata-bata, kadang mengulang kata-kata yang sama, kadang dengan jeda yang agak lama. Oh, dan satu lagi, ia tidak membuat kontak mata denganku saat sedang berbicara. Walaupun sangat bosan menunggunya bicara, tapi aku cukup maklum. Sepengetahuanku, anak autis memang seperti itu. Tapi rupanya rasa penasaranku lebih besar dibanding kebosananku.

“Dari mas Reza. Mas Reza bilang nama kamu sama bagusnya kayak nama Asha.”

“Ooh, memangnya nama Asha mengandung arti apa?”

Sebenarnya aku agak curiga juga seorang anak autis bisa berbicara serius seperti ini. Curiga telah ada naskah yang sudah disiapkan terlebih dahulu.

“Harapan yang menyenangkan. Kata mama, saat mama sedang mengandung Asha, mama selalu berharap agar Asha jadi anak kebanggaan mama. Karena saat itu, mama senang sekali akhirnya keinginan mama mempunyai anak terwujud.”

Aku terdiam lama sekali. Mataku berkaca-kaca. Mendadak terharu. Sedih. Menyesal. Bercampur jadi satu. Nampaknya sikapku sudah keterlaluan. Bukan nampaknya lagi, memang seperti itulah kenyataannya.

“Asha, maafin Runa, ya.”

Ia menoleh sebentar, mengangguk, lalu melenggang pergi. Aku masih diam, menyesali perbuatan yang telah kulakukan padanya. Pikiran negatifku selama ini ternyata salah. Perkataannya tadi seolah menamparku. Meskipun tetap saja ada kecurigaan ada seseorang di belakangnya yang sengaja menyuruhnya melakukan hal tersebut.

***

            Setelah hari itu, aku jadi lebih sering memperhatikan Asha. Aku memperhatikan dengan rinci, apa yang membuat Asha marah, apa yang membuat Asha tertawa, apa yang membuat Asha bosan, apa yang Asha sukai. Jadi begini, Asha marah jika dibentak atau diganggu. Asha akan tertawa dalam segala hal yang menurutnya lucu, sekalipun tidak lucu bagi kita. Atau saat ia bisa menjawab suatu pertanyaan. Asha bosan jika sedang pelajaran geografi. Bukan hanya Asha, seisi kelas pun bisa terlelap jika sedang pelajaran geografi karena gurunya yang benar-benar membosankan. Asha suka bunga kering. Asha suka hujan. Tiap kali hujan turun, Asha pasti berteriak kegirangan, lalu bermain hujan-hujanan. Pernah sekali mas Reza menarikku untuk ikut menemani Asha bermain hujan. Katanya, kesenangan anak autis itu berbeda-beda. Asha, ia menemukan kesenangannya pada hujan, bunga kering, memasak dan musik. Sebelum-sebelumnya aku tidak pernah bermain hujan. Baiklah, tidak apa-apa jika hujan saat itu berupa pertanda baik. Kalau buruk, bagaimana? Uh, bermain di bawah hujan pertanda buruk, jangan-jangan aku bisa tertimpa hal buruknya. Ini kali pertamaku bermain hujan. Entah ada dorongan apa dari dalam diriku yang memaksaku menemani Asha. Aku berdiri di sebelahnya, mengamati kedua kelopak matanya. Mata yang dulu kusebut penuh tatapan kosong, sekarang telah berganti. Keceriaan, luapan bahagia tersorot dari dalam matanya. Mungkin bukan ia yang berubah, tapi cara pandangku lah yang berubah. Aku tidak benci Asha. Sama sekali tidak. Sejak hari itu, tiap kali turun hujan, pikiranku bukanlah tentang pertanda buruk atau baik lagi. Tapi langsung terbesit Asha. Bagaimana hal kesukaannya membuatku menyukai hal itu juga. Bermain di tengah hujan. Hujan yang selalu aku kaitkan dengan pertanda buruk, kini menjadi salah satu hal kesukaanku juga. Apakah sekarang aku selalu mengikuti apa yang menjadi kesukaan Asha? Entahlah. Tapi, ia benar-benar telah merubah persepsiku akan hujan.

Mengobrol dengan Asha sekarang selalu terasa menyenangkan, walaupun lebih sering tidak sesuai dengan apa yang kumaksud. Kadang aku bertanya, “Apa Asha punya adik?”. Dan, dia akan menjawab, “Ya, Asha suka makan mie!” Aku hanya tertawa cekikikan, bagaimana bisa dia menjawab sampai sejauh itu. Jarang kami bisa mengobrol serius. Asha tidak tahu nama siswa-siswi di kelas. Asha tahu namaku, dia tahu aku ini Aruna Arkananta, tetapi hanya ‘tahu’. Tidak hafal. Seringkali tiap aku bertanya, “Coba tebak siapa namaku?” dia akan menggeleng mengatakan tidak tahu.

Penasaran akan keluarga Asha dan latar belakangnya, aku meminta izin pada mas Reza untuk ikut bermain ke rumah. Hanya perlu berkendara 15 menit dari sekolah. Ia tinggal di kompleks rumah dinas tentara. Ternyata ayah Asha adalah seorang tentara, ajudan ini pasti anak buahnya. Sesampainya disana, aku sempat kaget juga saat mama Asha menyuruhnya masak makan siang sendiri. Heh, kukira anak autis itu manja dan selalu bergantung pada orang lain? Mas Reza menepuk pundakku, berkata bahwa masakan Asha kadang lebih nikmat dibandingkan masakan mamanya. Meyakinkanku bahwa Asha bisa melakukannya sendiri. Dari ucapannya, terdengar seperti mas Reza sedang membuktikan bahwa pikiranku tentang seorang anak autis manja adalah salah besar.

“Asha, Asha suka masak ya?” tanyaku sesampainya di dapur.

“Iya, tolong ambilkan bumbu spaghetti di kulkas dong.”

“Tunggu sebentar ya, aku ambilin dulu.”

Keluarga Asha benar-benar sabar menghadapi Asha. Mereka memperlakukan Asha dengan baik, mereka tetap menginginkan Asha mandiri. Tidak bergantung kepada orang lain. Hebat. Aku terkagum-kagum melihat Asha memasak. Kukira seorang anak autis tidak bisa melakukan hal-hal yang orang ‘normal’ lakukan.

“Eh, Aruna jangan dekat-dekat dengan kompor. Nanti kena percikan minyak, panas.” larang Asha sambil membuat penghalang dari tangannya agar aku tidak mendekat.

Satu poin lagi bertambah untuk Asha, dia perhatian. Eh, 2 poin maksudku. Yang kedua adalah karena ia hafal namaku.

Selesai makan, kami berkumpul di ruang tengah.

“Mas Reza, ini gitar punya siapa?” tanyaku, melihat sebuah gitar berwarna coklat dengan garis-garis biru.

“Itu gitar milik Asha.”

“Asha bisa main gitar?!” jeritku histeris.

“Iya, dia sudah pinter lho mainnya. Dari kecil udah les gitar sih. Asha, coba mainin satu lagu buat Aruna.” ujar mas Reza.

Petikan-petikan senar mengalun lembut, memainkan salah satu lagu lawas dari Extreme yang sempat dinyanyikan ulang oleh boybang Westlife itu, More Than Words. Aku tanpa sadar ikut bernyanyi, mengikuti alunan musik yang Asha buat.

            More than words…is all you have to do to make it real

            Then you wouldn’t have to say…that you love me

            Cos I’d already know

***

            Baru saja pulang dari rumah Asha, tanpa berganti pakaian terlerbih dahulu, aku segera menyalakan komputerku. Kutulis keyword ‘Apa itu autis’ di kotak pencarian google. Klik. Hmm, banyak definisi tentang autis kucoba buka situs itu satu persatu. Yak, dapat! Aku tenggelam dalam bacaanku sendiri. Masih belum puas, kucari bacaan mengenai autis dari situs lain. Aku menemukan sebuah situs berisikan sebuah artikel dari Stuart Duncan, membahas tentang ‘Autism from a father’s point of view’. Disana ia menuliskan sebuah puisi berjudul If My Child Was A Flower.

If my child was a flower… would he realizes that he was different from the other flowers?

Would he knows that he looked the same and yet didn’t fit in with the rest?

Would he knows that his scent was a little different from the others, that he was a little less vibrant, a little less tall and sturdy?

Would he knows that even though he is mostly the same that he is different enough for some people to think he is a weed?

If my child was a flower… would he wishes that he could be in a flower pot by himself?

Would he wishes that the other flowers didn’t seem so foreign to him?

Would he questions the soil in which he lives?

Would he questions whether or not his water is different?

Would he blames the sun?

If my child was a flower… would he hates being stuck where he is? Mixed in among the rest of the flowers, invisible yet obviously different.

Would he knows that he will be the last one picked?

Would he knows that most of the flowers don’t want him there?

Would he cares?

If my child was a flower… he’d be the only flower in the group with a hidden element, a special property… the one compound that could be harvested and made into a healing agent.

He’d be the only flower in the group that could help the blind to see, help the unloved to feel loved, to help the lost to be found.

Will he ever be given the opportunity?

Will someone love him enough to discover what is hidden deep within him?

If my child was a flower… he would be a very special flower indeed.

Ya, Asha akan jadi bunga yang paling istimewa. Pasti. Masih dengan rasa penasaran untuk mengetahui lebih banyak tentang autis, kucari lagi berbagai sumber dari internet, salah satunya tentang bunga apa yang selalu Asha bawa. Kata mas Reza, nama bunga itu iris biru. Aku yang awam ini malah baru pertama kali mendengarnya. Jadi, dalam bahasa Yunani, Iris berarti ‘pelangi’. Bunga ini dianggap melambangkan arti kesetiaan, kebijaksanaan, persahabatan, dan harapan. Harapan, Asha. Asha dan bunga iris biru memang cocok. Mereka sama-sama melambangkan harapan. Masih dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, kubuka lagi tab-tab baru mengenai artikel tentang autisme. Disana aku menemukan bahwa, ‘Anak yang mengalami autisme mungkin akan bertingkah seolah-olah tidak sadar akan kedatangan dan kepergian orang lain’. Entah mengapa, setelah membaca kalimat itu, mendadak rasa penasaranku tergantikan oleh kesedihan. Menyadari bahwa sebenarnya Asha tidak pernah sadar akan kehadiranku setiap harinya, membuatku ingin menangis. Jadi, selama ini, bagaimana aku di matanya? Bagaimana jika aku dan Asha berpisah? Dia tidak akan mengingatku, dia tidak akan sadar akan kepergianku. Lalu, bagaimana dengan keseharian kami bersama? Apa ia tidak akan mengingatnya juga? Aku kan yang selalu menemaninya, dia tidak seharusnya tidak mengingatku! Tapi…ah, yasudahlah. Terserah saja. Hey, apa aku suka padanya? Tidak. Pasti tidak. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada seorang anak autis. Tapi, jika seperti itulah kenyataannya, bagaimana? Bukankah seorang anak autis pun berhak mendapatkan kasih sayang layaknya manusia lain? Bukankah kita tidak bisa memilih pada siapakah kita akan jatuh cinta?

Pertanyaan itu menghantuiku beberapa malam ini. Lelah memikirkannya, aku pergi ke tempat penyewaan DVD. Ingin melepas penat.

“Mas, ada DVD bagus gak? Tapi film Indonesia.”

Entah lelaki penjaga toko ini perantara dari Tuhan atau bagaimana, seolah tahu isi hatiku, ia mengatakan,

“Ada, mbak! Rectoverso! Salah satu filmnya menceritakan tentang seorang anak autis yang jatuh cinta, mengharukan.” jawabnya semangat.

Tak kalah semangat, kupinjam DVD itu, berharap dapat jawaban akan pertanyaanku beberapa malam ini.

Yak, mulai… Kuputar film itu di DVD Player-ku. ‘Perhatikan film ini baik-baik, Runa.’ ujarku pada diri sendiri. Lukman Sardi memernkan peran seorang lelaki autis yang tinggal bersama ibunya. Lalu, datang Prisia Nasution yang berperan menajdi perempuan yang akhirnya berhasil membuat Lukman Sardi jatuh cinta. Ooh, berarti kemungkinan seorang anak autis dapat jatuh cinta itu bisa saja terjadi. Bisa saja terjadi. Ya, betul, bisa terjadi. …..Heh?! BISA TERJADI? Kumatikan segera televisiku. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan.

“Oh, bagus. Selamat Runa, kamu mendapatkan jawabannya. Kamu telah jatuh cinta pada Asha.”

Aku pusing sendri memikirkan segala kemungkinan itu, tapi mengingat bahwa Lukman Sardi saja bisa jatuh cinta, kenapa Asha tidak?

“Kalau begitu, berarti ada kemungkinan bahwa Asha akan suka padaku juga.”

Memikirkan kemungkinan itu, senyumku mulai mengembang. Ini pasti anugerah dari Tuhan.

Ternyata cinta memang hadir pada tiap diri seseorang. Ia tidak memandang apakah kau ini normal, autis, atau mengidap penyakit apapun. Ia tidak peduli kau ini tinggi atau pendek, kurus atau gemuk, berkacamata atau tidak, dan hal-hal lainnya. Itu hal sepele. Banyak dari kita malah sibuk membuat kriteria macam-macam untuk siapa yang pantas untuk kita cintai, membuang waktu percuma. Kita bahkan terlalu sibuk memilah-milih siapa yang pantas untuk kita cintai, tanpa menyadari bahwa sebenarnya cinta sudah hadir sejak awal. Ia sudah berlalu lalang di hadapan kita, namun kita yang terlalu acuh tak acuh, tak menyadari keberadaannya.

1 tahun berlalu. Asha, dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda seperti Lukman Sardi dalam film Malaikat Juga Tahu. Aku terus menunggu. Tetapi, tetap saja, dia tidak jatuh cinta. Atau mungkin, tidak semua anak autis dapat merasakan hal yang sama. Tidak untuk Asha. Tidak apa-apa, seperti salah satu kutipan yang pernah kubaca, ‘Autism has taught me that love needs no words.’. Ya, Asha mengajarkanku bahwa cinta tidak membutuhkan ata-kata. Mungkin Asha bukannya tidak merasakan cinta, mungkin ia hanya tidak mengatakannya. Atau, tidak mampu mengatakannya. Tidak segala hal bisa diungkapkan lewat kata-kata. Hanya perlu dirasa. Kecewa memang karena tak mendengar pernyataan langsung dari Asha, membuat kesimpulan sendiri yang entah benar atau tidak. Tapi aku tidak boleh memasang harapan terlalu tinggi, aku sadar, sangat sadar bahwa Asha adalah seorang anak autis. Mungkin hati Asha masih berlayar, mencari tempat berlabuh yang sempurna. Dan, sosok itu bukanlah aku.

***

            Lalu datanglah suatu waktu dimana bagian ini selalu menjadi bagian yang paling kubenci, tiba waktunya untuk berpisah. Perpisahan memang selalu menyakitkan. Begitu pula dengan perpisahan dengan Asha. Perpisahan, mendengarnya saja sudah menyedihkan. Karena perpisahan identik dengan kehilangan. Namun, masa sekolah telah berakhir. Saatnya memulai langkah pembaharuan untuk mencapai mimpi-mimpi yang baru pula. Asha, entah kemana ia akan melanjutkan hidupnya. Asha, entah dia akan tetap mengingatku atau hanya menjadikanku angin lewat. Asha, entah dimana hatinya akan berlabuh nanti. Entah pada siapa, entah kapan, dan entah bagaimana kejadiannya. Yang terpenting, aku tidak akan melupakannya, kan? Karena Asha adalah teman, sekaligus guru terbaik yang pernah singgah ke dalam kehidupanku. Yang mengajarkanku bahwa setiap orang berhak mendapatkan kasih sayang dan cinta, dan mengajarkanku bahwa setiap orang adalah istimewa. Istimewa untukku, tidak selalu istimewa untukmu juga, kan?

“Asha, foto dulu dengan Aruna, sana!” suruh mas Reza.

JEPRET!

Hanya itulah yang tersisa dari Asha. Selembar foto kami berdua. Kutatap sekali lagi foto itu. Aku rindu Asha. Aku benar-benar merindukannya. Walaupun kala rindu menyergap, sesungguhnya aku benar-benar berharap Asha akan datang dan berada di sampingku. Tapi, kenyataan tidak selalu sesuai dengan keinginan, aku hanya dapat memandang foto Asha. Namun, kau tahu tidak bahwa sebuah foto memiliki kekuatan magis di dalamnya? Atau seperti itulah yang aku yakini. Sebuah foto menyimpan berjuta-juta kisah-kisah di masa lampau atau mari kita sebut sebagai kenangan. Tanpa perlu kata-kata dan suara, selembar foto bahkan bisa langsung saja membawamu ke masa lalu. Seperti mesin waktu. Tapi, selembar foto itu selalu diam. Ia tidak membeberkan kisah-kisahmu ke orang lain, ia tahu bahwa kenangan itu sangat berharga bagimu. Ia hanya menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Yah, bagaimanapun, kenangan dan Asha (baca: harapan) selalu hidup berdampingan, bukan? 🙂

*SELESAI*

Ngomong-ngomong, cerita ini gak niat nyontek Rectoverso, ya. Awalnya pas dapet tugas bikin cerpen ini, langsung kebayang mau nulis cerita tentang salah satu temen SMP-ku. Yang kebetulan anak autis juga. Ada beberapa kejadian yang nyata dan ada juga yang fiksi. Lagi iseng aja gitu gugling apa anak autis bisa jatuh cinta, eh keluarnya malahan review tentang rectoverso. Pas dibaca baru ngeh deh.

Oiya, sebagai informasi aja ya, saya menggunakan kata ‘anak autis’ disini untuk menggantikan kata ‘penyandang’ atau ‘penderita’. Karena ada beberapa perdebatan (menurut yang saya baca). Ada yang berpendapat bahwa rasanya kurang pas jika seseorang yang mengalami autisme disebut kata penyadang/penderita autisme. Karena, menurut beberapa orang, autisme bukanlah sebuah penyakit, tidak disebabkan oleh virus, bakteri, atau kuman. Penyebabnya masih belum jelas sampai sekarang. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan, yang kalau sudah terdeteksi dari awal, bisa dimulai dengan cara terapi. Autis bukan penyakit, bukan cacat mental, bukan gila. Apapun panggilannya, stop using the word ‘autism’ for jokes. It’s not funny, AT ALL.

Untuk topik lebih lanjut mengenai autisme dapat dibaca di:

–          http://anak-autism.blogspot.com/2011/02/apa-itu-autism.html

–          http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme

–          http://www.lspr.edu/csr/autismawareness/?page_id=24

–          http://mizan.com/news_det/deteksi-dini-autisme-pada-anak.html

–          Klik Autis.info yang merupakan situs infomasi seputar autisme. Atau, follow @AutismIndonesia dan @PeduliAutisme di Twitter yang merupakan yayasan autisme di Indonesia.

–          http://neverendstory.wordpress.com/2011/04/02/sepenggal-tulisan-memperingati-world-autism-awareness-day/

–          http://terselubung.blogspot.com/2011/07/fakta-tentang-autisme.html

–          http://deebacalah.blogspot.com/2012/01/perbedaan-anak-indigo-dan-anak-autis.html

–          http://news-medical.net/health/What-is-Asperger-Syndrome-(Indonesian).aspx

–          http://acurve.wordpress.com/2011/06/24/checklist-untuk-autisme/

–         http://www.newsilly.com/2011/09/18/kenapa-sih-gak-boleh-becanda-pakai-kata-autis-lu/

–          http://theonlynelly.wordpress.com/2011/06/02/getting-closer-with-autism-a-story-a-to-z-from-justsilly/

–          http://www.autismspeaks.org/what-autism/treatment

–          http://www.autismspeaks.org/what-autism/learn-signs

Sumber gambar : World Autism Awareness Day.

0

Cinta?

Bosen banget. Gak ada kerjaan. Hari libur ini pun dihabisin di rumah, yaa, di dalem kamar tepatnya. Twitteran. Stalking-in satu-per-satu profile milik akun-akun yang nongol di timeline gue. Kurang kerjaan? Ya emang. Yaudah, mau ngepost paragraf-paragraf favorit gue dari beberapa artikel Thought Catalog deh. Gue sih habis baca itu, mendadak pingin elap aer mata. Kata-kata nya sederhana, gak lebay, gak puitis juga, tapi disusun dengan sedemikian rupa yang bikin enak dibaca.

Pertama, tentang sepasang kekasih (ew, apapun namanya deh) yang berhubungan jarak jauh atau mari kita singkat LDR — tapi buat yang jomblo pun kata-katanya masih pas sih kalo mau dikatain ‘GUE BANGET!’ Misalnya: kecengan jarak jauh? Lo di Bali, doi di Depok? Bisa bisa, boleh boleh…

I thought maybe after we were forced to be apart, I’d get used to your absence. I’d start to like having my alone-time back. I’d start to morph back into the independent person I was before you. It hasn’t worked. The distance has only made me think about you more. All day long, in fact. I can’t stop thinking about you because I know it’s going to be a good long while before I see you again. It’s like my brain has to fill the “you” quota because my body knows it won’t get what it needs.

I still have the shirt that smells like you. I wear it around the house to do chores, and because it makes me think you’re with me. It doesn’t help me to stop thinking about you, but it soothes the ache. I miss you, and I know we’ve made this decision to stay together and climb this hill together, but that doesn’t mean it’s easy. It’s so hard to try and force myself to do other things, to go out, to care about something other than you and what you might be doing off where ever you are.

Kedua, tentang melepaskan seseorang *tsah*.

Letting someone go — when it is a necessary act of self-preservation, something that has to come if you expect to move forward in life — is regarded as a kind of victory. You have successfully overcome an emotional trauma that once surrounded you like a kind of fog which prevented you from ever seeing the sun. People will tell you, always with the best intentions, that one day you are going to wake up and realize that you are okay, and your life is not immediately over because they are no longer a part of it. And this is true, though it’s not the net positive that we are so quick to label it as. Because it’s not as though you simply wake up one day and proclaim yourself fine, suddenly hearing birds chirp and children laugh after months of only your own oppressive silence. You simply start to forget, feeling the acute pain of the loss less and less as each day goes on. There will come a day when you don’t care, but you won’t notice it, because you will have other things to think about.

Dapet pencerahan untuk berani move on? #hazek. Ketiga:

I believe you are my person. I love you, even though you don’t love me. I love you, even though there’s nothing in it for me anymore. There’s just loving you, but that’s enough for me. I find you to be one of the most exquisite humans I’ve ever met, and knowing you is all it takes to love you. I don’t need anything in return. Getting to be acquainted with your intelligence, depth, understanding, endurance, humor, wisdom, (I could go on), is what love is, and it’s why I choose to love you so intently.

Thank you for loving me when I didn’t love myself. I pushed away because I believed that I wasn’t worthy of love. I came back because I thought you were the only person who cared.

But you weren’t, and you’re not. You were, however, the person with whom I fell most intensely in love. You reached inside of me and made me feel. And with that, your love made every bit of my unhealed heart and soul surface. And it was all left between us. I believe I’ve healed a lot of it, but there’s always a ways to go. The point is: I credit you for being the catalyst of my transformation. Thank you, thank you, thank you.

I believe that love is the essence of everyone. But in the context of being between two people, it is also a verb. And an action is a choice. Physical feelings are just that—physical. But attraction of the mind, heart, spirit—that’s miraculous. And when you choose to love another unconditionally, without judgment, and regardless of what’s in it for yourself, that’s the fairy tale.

I think you need to learn to love yourself as much as I do. And I hope you do that. I will always be close, regardless of distance. I’m always a phone call or a memory away, loving you, and hoping you find peace, love, happiness and whatever else will fill you up and make your life most worth living. Thank you for gracing my life. Please accept this as a token of my love and gratitude, and know that what we shared was beyond what language can construct. So far, this is the best I can do.

Keempat, ini favorit gue diantara paragraf-paragraf lain yang gue kutip dari beberapa artikel, tentang lo sendiri. Bahwa lo harus cari orang yang memperlakukan lo dengan baik. Masa lo doang yang terus-terusan perhatian, sedangkan doinya gitu-gitu aja? Udah, tinggalin aja! Yah, I mean… Come on, you spent all day to think of him and he doesn’t even care! No, he isn’t worth it. He isn’t worth your time, he isn’t worth your love.

The one who wants to be with you never lets you forget how special you are. They tell you via text message (in full sentences that don’t even need emoticons), flowers, candy, skywriter and actual in-person words — because they know how important it is to be in the presence of love, to be wrapped up in it, to feel it next to you holding you and never letting go. They will tell you by being there for you when you need them to be and even sometimes when you don’t need them to be, when you’re sick in bed and insist that you’re fine and they don’t need to come over and take care of you. They will be there anyway, with a bowl of chicken soup ready, five kinds of reading material and a dozen different brands of medication. They take your health seriously — maybe a little too seriously, like a grandma — because they take you seriously.

The one who doesn’t want you isn’t there or when they are there — still isn’t. They’re always texting someone else and perpetually glued to the screen of their phone as if they suddenly would go blind without the light of the iPhone. They’re always hanging out with other people who aren’t you, talking about other people and making excuses for why they don’t have more time for you. They always talk about how busy they are and how full their schedule is, but they aren’t that busy. Their life is full with friends and acquaintances and a bunch of people who are tagged on Facebook smiling in photos with them. None of these people are you, and if they wanted you, those people would be you.

The one who doesn’t want you assumes that you know all of those things and don’t need to be reminded. They forget your birthday, your anniversary and might not even know very important information about you that you expect everyone in your life to know — like your eye color. They might not even know your middle name. They haven’t taken the time to get to know you and learn the important things, like the dreams that you haven’t locked away yet and what you want to be when you finally grow up, or the less important things, like that you can’t listen to Explosions in the Sky without crying and you feel like the movie Lost in Translation was made for you. You don’t communicate or really talk at all — because they’re unwilling to open that part of themselves. They don’t see that you belong in it.

The one who wants to be with you knows that falling in love with you doesn’t happen all at once and it can take years to truly get to know someone. Learning about someone is like wandering through an old mansion with many rooms; it’s always discovering that there’s another door to unlock. This person is willing to go on that journey, to be constantly surprised by how intricate and complex you are, an M.C. Escher painting in human form, and loves finding out grand staircases of new information about you, like that you consider Missy Elliott your spirit animal and want to live in Paris when you get old. But they also love how simple you are sometimes, as simple as a backrub after a long day, because they love everything about you that’s beautiful and that hurts. They’re willing to stick it out with you through the hard conversation and the rough patches — whatever it takes to lie next to you at night, they’re willing to fight for it. They will fight to love you.

The one who doesn’t want you won’t fight for you or perform random acts of emotional strength to prove their love. And you should have some who is willing to do that — to chase you and sweep you off your feet (and let you do some of the chasing, too) and strive for ideals we all say are “unattainable” or “unrealistic.” You deserve to be loved by someone who knows how to love you, specifically, and only you. You deserve to someone that won’t let your dreams stay locked away. You deserve to live them.

Kelima, bahwa lo sudah seharusnya dapet perhatian. Sesibuk apapun orang itu, kalau dia bener-bener sayang sama lo, dia bakal nyempetin waktu buat ngabarin lo. Dan itu dia, kunci dari semua hubungan, komunikasi. #apasih #sokiye

Love someone when they’re insufferable, when they hate their job and hate their friends and seem to hate everything in their life except for you. You might lose respect for them, you might look at them as if they’re weak and can’t stand on their own two feet, but I want you to try to push those thoughts out of your brain because the fact is that this happens. People get stuck in their life and they look around and only see one thing that makes sense to them. It doesn’t make them weak or co-dependent, it just makes them human. Don’t fault them for things that are largely out of their control, don’t have your attraction hinge on how great their life seems to be going. Choose to love them. ♥

Oh, sebelum post ini gue publish, Thought Catalog juga sempet punya artikel yang ngebahas, tanda-tanda lo lagi jatuh cinta. Coba cek deh, kalau yang dibawah ini memenuhi semua karakteristik lo, berarti…yap, selamat (atau turut berduka cita?), lo lagi jatuh cinta :3

1. You think about them all the time. You can’t force yourself not to. You say, “Okay, today I will not think about this person,” but even being deliberate always backfires and you just end up thinking about them more.

2. You do things for them you normally wouldn’t do even if they’re annoying to you, like help them move or go out of your way like, seven blocks just to get them that specific kind of candy they like.

3. You find yourself lingering on stuff that smells like them — their T-shirts, their sheets. When you catch a whiff of them, you feel happy and safe.

4. You don’t mind the gross stuff like if they have eye boogers or a big pimple. It just makes them more human and therefore somehow cuter?

5. You want to know everything about their life — their childhood, their family, their favorite concert they ever went to, their best college memories, everything. You could just listen to them tell you stuff for hours.

6. You find yourself goofily smiling alone when you think about their dumb face.

7. You talk about them incessantly. Your friends are all like, “Yeah, we know they like Game of Thrones and one time they were in a ska band. Jeez. You’ve told us already like seven times.”

8. Innocuous things remind you of them. Like streetlamps and cracks in the sidewalk and bodega cats and like, really anything you see.

9. Even if you were hanging out on a yacht with Zac Efron and Channing Tatum (or like, Megan Fox and Rosario Dawson), you would still be like, “Hmm. I wonder what So-And-So is up to. I should text them.”

10. You check their Facebook/Twitter/Tumblr on a regular rotation just to see if they posted anything new. What? It’s not weird.

11. You find everything they do fascinating. Oh man, are they tying their shoes or brushing their teeth? YOU ARE RIVETED.

12. You feel like they really listen to you and respect your thoughts and opinions. You never feel afraid of telling them how you feel or what you think, which is kind of a new thing for you.

13. You want to go on trips together and find yourself planning vacations months in advance. You just sort of see them in your future.

14. You want to share things like bed space, food, music collections, books. You lend them stuff and feel good about it and you get to borrow things too. There’s no cordoning off or possessiveness about space or stuff. You’re a unit.

Udah coba cocokin? Udah dapet jawabannya?

Tapi, gak semuanya yang berhubungan sama, ehm, cinta (atau apalah lo pada mau nyebutnya, bebas!) ini manis semua kan ya. *yekali gula*. Kalo yang dibawah ini gue full-copas dari thought catalog, satu artikel. Kalo tadi elap aer mata karena terharu, sekarang elap aer mata gara-gara sedih. Dari judul artikelnya aja udah frustasi abis, “When They Don’t Love You Back.” Baru baca judulnya aja, lo udah tau kalo artikel ini ngebahas tentang yang, uhm, bahasa gaulnya, ‘cinta bertepuk sebelah tangan’ :p

There’s a strange feeling that sometimes overcomes us when we’re reaching out to someone, this feeling of acute embarrassment. “Are we bothering them?” we ask ourselves, and almost wanting to apologize for even sending a message in the first place. It’s as though our very presence in their lives is a nuisance, and our efforts to connect as friends or lovers is one that only complicates things for them. We want to say, “I’m sorry that I want to talk to you, it’s weird and I should probably stop.” The thing is, you can feel when you’re
bothering someone. It’s not difficult to tell when you are the one who is always reaching out, always initiating contact, always starting the conversation. You realize in a way that is at once terribly humiliating and almost masochistically sweet that you are the one chasing after
them. When they grant you with their reciprocity, with their attention — nothing feels better. But most times you are left sending a message that you immediately
regret, because you know that it only puts one more tallymark in the “you need them, and not the other way around” column. There are few things more painful than
feeling like you’re constantly going out of your way for someone who is, at best, mildly amused by your affection. It’s hard to explain the feeling of disappointment exactly, but it’s mostly directed towards
yourself. You can tell when you send them a good-morning text message, or mail them a gift, or take the time to do something for them that you know they’ll
barely appreciate — this isn’t going to be reciprocated. This isn’t going to be really appreciated. Hell, it may not even be noticed. But you can’t stop yourself. It’s just a sad, universal truth that there are people we love a lot who don’t really love us back. Whether platonic or romantic (or even, sadly enough, familial) there are
always going to be these uneven relationships in which one person is constantly left feeling as though their emotions and their desires are a mild irritant. There are going to be friends we go out of our way for who never quite acknowledge us in return, who will never be there to listen to our problems, who will never drive out in the middle of the night to pick us up when we’re in trouble — no matter how much we do these things for them. And there are going to be lovers with whom we long to construct an entire relationship, but with whom we will always feel stuck at the frustrating “beginner phase” where no exchanges go beyond the superficial. It just happens. The most difficult thing, it seems, is being
able to admit when your love is going nowhere. Speaking personally, I have watched as more than one friendship proved themselves to be entirely one-sided, when my attempts to connect with the person (even in forums as non- committal as sending a Gchat), were
proving increasingly pathetic. I was just way more into them than they were to me, and there is always a certain amount of pain in admitting that. You don’t want to confront this person and tell them, “Hey, look at all of these nice things I do and efforts I make for you, and you don’t do any of these things in return,” because it is a sad thing to do.

It’s sad because the truth is that they don’t owe you their friendship or their love. They don’t owe you the same kind of relationship you desire from them. You can’t insist, through repeated action, that someone is now indebted to you because you have proven that you are worth of something. We make the choice to keep giving our attention and love to someone who has clearly demonstrated that they don’t want it, and it is always their choice to make if they one day decide they want to start reciprocating. But to break the cycle and force yourself to stop initiating contact, to stop making effort, and to stop caring about their response — that is much harder. That means admitting that you have lost a battle you didn’t even want to acknowledge you were fighting. But when we’re trying to get someone to love us back, it’s always a battle. And it’s one we’re almost always guaranteed to lose.

Yaudah gitu aja dulu. Nampaknya post ini udah kepanjangan. Maaf ya isinya tentang artikel-artikel thought catalog semua, lagi suka aja bacanya gitu mwehe. Sekarang, terserah lo semua deh pada mau deskripsiin cinta kayak gimana. Gue sih masih….gak paham, harus ngalamin sendiri dulu kayaknya. *melipir manis sambil cengengesan*

0

#SaveOrangutans, si hewan endemik milik Indonesia.

Real act to #SaveOrangUtans. Buy @wellborncompany’s tee. All profit goes to @orangutanku. Sms 085720111357

 

Yuk, pada pesen baju dari @wellborncompany ini, semua keuntungannya 100% akan didonasikan ke @bornean_OU sebagai kontribusi kita atas penyelamatan orangutan http://wellborncompany.com/index.php?id_product=556&controller=product&id_lang=1 ….

Udah pada tau kan kalau populasi orangutan di Indonesia kini makiiiiiiiiiin berkurang? Mereka sebagian besar hidup hutan di daerah Sumatra dan Kalimantan. Tapi kenyataannya kini, hutan-hutan hijau berkurang 90% karena perubahan alih fungsi hutan yang menjadi lahan kelapa sawit. Tempat tinggal mereka dibakar dan bahkan beberapa dari mereka pun ikut terbakar, tega emang liatnya?!!!! Sempet baca juga dari kompasiana bahwa ada lagi sebab berkurangnya lahan hutan. Salah satunya di Kalimantan, berita daru Centre for Orangutan Protection (COP) bahwa para politisi dan pejabat pemerintah telah mensponsori dan membiarkan tindak kejahatan yang terus menerus terjadi disana. Pemerintah Daerah Kalimantan Timur dengan Departemen Kehutanan membangun jalan poros Bontang-Sengata sepanjang 60km membelah Taman Nasional Kutai pada tahun 2002. Pembangunan ini telah menghancurkan para habitat orangutan. Diperkirakan, 22.000-70.000 orang telah merambah dan menduduki Taman Nasional Kutai. Ironisnya, Pemerintah malah menetapkan kawasan yang dirambah menjadi desa dan kecamatan seluas 23.712hektar. 😦

Sekarang, @bornean_OU sedang berencana melepas liarkan orangutan namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan  yaitu:

– Lokasi pelepasliaran harus diperhatikan. Setiap orangutan dilepasliarkan pada titik yg berbeda utk menghindari persaingan.

– Hal penting lainnya dalam pelepasliaran adalah menyiapkan sarana dan prasarana yg mendukung.

– Kandang transportasi dan sumpit atau senapan bius merupakan perlengkapan utama dalam pelepasliaran. 

– Persiapan penting lain adalah studi fenologi di area pelepasliaran dan persiapan transek. Pengamatan fenologi meliputi studi siklus hidup flora fauna di lokasi rilis dan iklim yg mempengaruhi siklus itu. Fenologi bermanfaat untuk mengetahui daerah yg berbuah banyak & kapan buah-buahan itu dapat dikonsumsi orangutan. Transek pengawasan adalah jalur setapak yg diprediksi akan sering dikunjungi oleh orangutan.

– Sarana pendukung lain yg dibutuhkan dalam pelepasliaran adalah kandang aklimatisasi. Di kandang aklimatisasi, orangutan memulihkan diri dari perjalanan & beradaptasi dgn lingkungan baru sebelum pelepasliaran.

– Selain sarana dan prasarana, SDM juga harus dipersiapkan dengan baik agar kegiatan pelepasliaran berjalan lancar. Persiapan SDM meliputi seleksi dan pelatihan bagi Tim PRM (Post Release Monitoring) yg bertugas memonitor orangutan pasca rilis. Proses pelepasliaran belum selesai. Tim PRM harus memantau orangutan selama minimal 1 tahun. Tim juga diturunkan ke lapangan untuk memeriksa kemajuan dan persiapan rilis untuk operasi pelepasliaran mendatang.

Nah, apakah kamu mau turut berpartisipasi? Dengan Rp 50 rb berarti kamu telah ikut mendukung ketersediaan pakan bagi orangutan selama perjalanan ke lokasi pelepasliaran. Dengan Rp 100 rb berarti kamu telah mendukung biaya angkut 4 orangutan dari pusat rehabilitation ke airport. Dengan Rp 500 rb, kamu ikut mendukung kebutuhan lapangan selama 1 th. Dengan Rp 5 juta berarti kamu telah menyediakan 1 radio tracking implant, pembiayaan cek genetik & kesehatan utk 1 orangutan. Donasi Rp 10 juta, berarti kamu telah membantu pembiayaan transportasi udara untuk 1 orangutan ke titik transit. Dapatkan informasi lebih lanjut di http://orangutan.or.id/donate/  & jangan lupa cantumkan tujuan donasimu sebagai “DONASI RILIS”! 

0

Shark Sanctuary.

Shark's Nightmare :( Tulisan ini dikutip dari salah satu timeline akun twitter milik majalah dive Indonesia dan akun-akun para pendukung kampanye #savesharks lainnya, ya. Mau bantu sebar informasi sebanyak-banyaknya aja tentang ikan hiu, biar semakin banyak yang sadar bahwa ikan hiu bukanlah makanan untuk dikonsumsi 🙂

Hiu akan lebih bermanfaat jika dibiarkan hidup. Pada tahun 2010, Fiji mendapatkan keuntungan US$ 42.2 dari pariwisata penyelaman hiu. Perburuan sirip hiu dapat mengakibatkan penurunan populasi ikan dan kerang-kerangan konsumsi, termasik tuna. Siap untuk tidak makan ikan? Hiu si Dokter Laut memangsa ikan yang sakit atau tua. Keberadaan hiu penting untuk mencegah penyebaran penyakit di laut. Setiap hari 250.000 hiu dibantai di seluruh dunia untuk siripnya. Jadi siapa predator yang berbahaya, kita atau hiu? Indonesia salah satu pengekspor hiu terbesar di dunia : 106.288 ton sirip hiu dihasilkan selama periode 2000 ‐2010.

Pengambilan sirip hiu adalah penyiksaan yg paling kejam! Pemburu melemparkan hiu yg masih hidup ke laut setelah semua siripnya diambil. Kerapu menghasilkan > 1 juta telur per tahun, hiu hanya melahirkan beberapa bayi hiu dan perlu waktu 10 tahun bagi hiu untuk menjadi dewasa. Seorang ibu hanya perlu mengandung selama 9 bulan. Induk hiu harus mengandung anaknya selama 5 bulan – 2 tahun. Hiu Kepala Martil membutuhkan waktu 15 tahun untuk menjadi dewasa dan melahirkan 12 – 41 bayi hiu setiap satu atau dua tahun. Bull Shark membutuhkan waktu 15 tahun untuk menjadi dewasa dan melahirkan 6‐12 bayi hiu setiap dua tahun. Hiu Paus membutuhkan waktu 30 tahun untuk menjadi dewasa, dan hidup sampai umur 60 – 100 tahun.

Hiu punya indra penciuman yang luar biasa. Mereka dapat mendeteksi 1 tetes darah dan 1 kolam renang Olympic. Posisi mata hiu di samping kepalanya sangat menguntungkan karena hiu bisa melihat 360 derajat ke sekelilingnya. Ukuran tidak menentukan kebuasan! Hiu Paus 3x lebih besar dari hiu pada umumnya, tetapi dia adalah hiu yang jinak. Hiu adalah ikan tertua di laut. Hiu sudah ada sejak lebih dari 400 juta tahun yang lalu.

Senang makan Lobster? Tanpa hiu, populasi gurita akan meledak yang mengakibatkan penurunan jumlah lobster. Hati‐hati dgn kosmetikmu! Minyak hati hiu ditemukan pada pelembab, deodorants, lotion untuk tanning, lip balm bahkan lipstick. Tulang rawan hiu tidak menghambat pertumbuhan tumor, bahkan akibat mengkonsumsinya bisa membuat mual. Sup sirip hiu adalah makanan tradisional tetapi tidak memiliki manfaat untuk stamina maupun kesehatan manusia, dan pendapat beberapa orang yang telah mencobanya, dikatakan bahwa sirip hiu tidak enak dan tidak ada rasanya! Rasa hanya dari bumbu-bumbu yang ditambahkan ke dalam masakan.

Daging dan sirip hiu mengandung racun yang mempengaruhi syaraf dan diduga mengakibatkan penyakit Alzheimer dan Lou Gehrig. Tidak seperti ikan pada umumnya, hiu dan manta menghasilkan telur dalam jumlah yang sedikit. Sekali populasinya turun akan sulit untuk pulih kembali! Sebarkan info ttg Hiu dan Manta serta petisi penolakan penjualan bayi hiu di supermarket https://t.co/nPHG00hS62.

Atau,  kamu bisa memasang twibbon di avatar kamu dengan klik link ini: http://twibbon.com/support/savesharks/twitter.

Semoga bermanfaat 🙂

0

Adopsi Coral, yuk! :D

Yang suka diving, cuuuungg….. *gue masih berstatus belum jadi diver, masih dalam tahap pengumpulan duit buat ngambil license nya hihihi* pasti kalo diving yang dicari keindahan alam bawah lautnya kan? Kalo terumbu karangnya rusak, gimana dong? Apanya yang cantik dong? Kasian juga kan ikan-ikan kecil yang hidup di kawasan terumbu karang? Enggak ada ikan berarti pendapatan masyarakat sekitar juga tidak bisa lagi bergantung pada laut. Nah, kondisi terumbu karang di Indonesia cukup memprihatinkan akibat kerusakan di sejumlah kawasan Indonesia timur dan tengah. Padahal, sebagian terumbu karang di Indonesia yang mencapai 60.000 kilometer persegi berada di kedua wilayah itu. Ari Rondonuwu dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi, yang melansir data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyebutkan, hanya 30 persen terumbu karang dalam kondisi baik, 37 persen dalam kondisi sedang, dan 33 persen rusak parah. Berdasarkan yang saya baca dari http://www.goblue.or.id/tentang-terumbu-karang,  terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° – 29° C. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut, tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. Itulah sebabnya terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewari aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida, Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Penyebarannya sendiri sebagian besar terumbu karang dunia (55%) terdapat Indonesia, Pilipina, Australia Utara dan Kepulauan Pasifik, 30% di Lautan Hindia dan Laut Merah. 14% di Karibia dan 1% di Atlantik Utara. Tuh liat sendiri kan, Indonesia adalah kawasan dengan terumbu karang terbanyak.

“Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang, terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Tergantung dari jenis, dan kondisi perairannya, terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam.” CUMA TUMBUH BEBERAPA MM TIAP TAUNNYA, DAN MULAI BANYAK YANG RUSAK! Kebayang kan harus nunggu berapa tahun lagi biar bisa liat terumbu karang yang cantik-cantik?

Terus apa yang bisa kita lakuin? Bergabung dengan gerakan-gerakan sukarelawan, atau terlibat aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Ada berbagai kegiatan yang bisa rekan-rekan ikuti, seperti jaringan sukarelawan survei terumbu karang (JKRI), trip-trip penelitian, reboisasi, magang di lembaga pelestarian lingkungan dan lain-lainnya (volunteer Reef Check). Atau, dengan adopsi coral seperti yang dilakukan oleh @EHDenpasar. Periode pertama ada 65 bibit adopsi coral dibawah laut Bali Barat, sekarang periode keduanya sudah dibuka lho. Sampai akhir April saja tapi, jadi yang mau ‘berkebun di bawah laut’… ayo ikutan, dengan Rp. 60.000 kamu sudah bisa turut menjaga laut 😉 Isi form http://t.co/TCriFCT7Yd –  konfirmasikan via email – bayar & konfirmasikan sebelum 20 April 2013 😀

  1. Bibit coral adapsinya adalah jenis Porites Cylindrica,
  2. Nanti akan ada Dokumentasi Coral Adopsi dengan nama kalian, buat update status dan menarik inspirasi orang lain agar bisa ikut berkontribusi,
  3. Posisi Koordinat Bibit Adopsi Kalian, jadi bisa check in di bibit kalian pakai foursquare 😉
  4. E-certificate, paperless dan tidak perlu bahan bakar untuk transportasi pengiriman 😉
  5. Laporan Pertumbuhan selama 3 Bulan (karena setelah itu coral akan tumbuh naturally. Weather and nature will take over),  + mention langsung via twitter jika kalian punya akun twitter. Kalian jadi punya sense of belonging terhadap apa yang kalian tanam, karena ini ‘anak’ adopsi kalian yang kelak akan besar dan banyak berkontribusi 😉
  6. Kalau ada yang kurang jelas bisa mention @EHDenpasar / 083.114.250.497 (Ika Juliana).

Yuk!earth-hour-bali

0

Maraknya Penangkapan Hiu.

catsfdfMaraknya penangkapan hiu untuk diambil siripnya akhir-akhir ini mengundang perhatian berbagai media dan para aktivis sosial. Bahkan, kampanye #savesharks sebagai penolakan terhadap penangkapan yang membuat jumlah populasi hiu itu berkurang dan mengganggu ekosistem alam mulai didukung banyak orang. Emang sih, saya bukan ahlinya dalam bidang ini, maka dari itu, saya izin men-copas tulisan dari Josefine Yaputri ini sebagai salah satu upaya saya menyebarkan pendalaman akan hiu:

#SaveSharks: Bukan Sekadar Hashtag

Oleh: Josefine Yaputri

Why #SaveSharks? Pertanyaan ini seringkali muncul dan mengarah pada saya, sebagai salah satu orang yang cukup gencar ikutan kampanye penyelamatan hiu. Sekadar informasi, kampanye ini diawali oleh Divemag Indonesia dan Riyanni Djangkaru dengan ikon Itong atau Hiu Tonggos yang menggemaskan. Denganhashtag #SaveSharks amat terkenal di Twitter, saya pada akhirnya bergabung dengan misi ini untuk Nescafe Journey 2.

Kenapa hiu? Kenapa bukan hewan lain? Bagi yang belum tahu, hiu sendiri adalah predator utama dalam rantai makanan ekosistem laut, sehingga hiu memegang peranan yang sangat penting. Tanpa adanya hiu, keseimbangan ekosistem secara total menjadi sangat terganggu. Jumlah hiu turut mempengaruhi jumlah spesies-spesies yang di bawahnya dalam rantai makanan. Singkatnya, bila jumlah hiu berkurang terus-menerus, kemungkinan kita untuk makan seafoodenak akan menjadi sangat kecil. Nggak mau, kan?

Hiu yang selama ini dianggap sebagai hewan laut yang buas dalam film-film nyatanya nggak seseram itu. Buktinya, para diver/penyelam bisa berenang bersama hiu dengan aman dan biasa saja, seperti ikan-ikan lain dan nggak mengganggu kami sama sekali. Dan menurut hasil penelitian, jumlah manusia yang terbunuh karena diserang hiu setiap tahunnya hanya dua belas, sementara jumlah hiu yang diburu manusia tiap tahunnya mencapai lebih dari 100 juta! Hiu-hiu ini diburu karena daya jualnya yang tinggi. Siripnya diburu untuk sup yang katanya bergizi, padahal nggak ada rasanya dan mengandung merkuri 40 kali di atas batas aman! Yang lebih menyedihkan lagi, di kota-kota besar di Indonesia, kuliner daging hiu menjadi tren untuk disajikan bareng nasi goreng, sate, dll. Konsumen yang nggak bijak tentu langsung ikut-ikutan dan makan ini semua tanpa memikirkan dampaknya. FYI, merkuri dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker dan penyakit Minamata yang menyebabkan kecacatan juga masalah saraf. Seram nggak, tuh?

#SaveSharks bukan sekadar gerakan yang membicarakan tentang “Ayo kita sama-sama selamatkan hiu!” saja. Kampanye ini lebih dari itu. Semua orang yang getol mengampanyekan #SaveSharks turut berkontribusi dalam penyelamatan lingkungan. Kita riset bareng-bareng dan melakukan aksi nyata untuk menghentikan perburuan hiu. Sosialisasi langsung ke masyarakat juga kita lakukan, terlebih karena masyarakat sebagai konsumen utama yang memesan menu hiu menjadi alasan mengapa perburuan hiu masih ada. Kita nggak hanya melakukan pencerdasan atau sosialisasi massa lewat media sosial seperti Twitter. Beberapa teman yang berprofesi sebagai guru bahkan melakukan sosialisasi #SaveSharks kepada murid-muridnya hingga mereka menjadi lebih peduli dan memutuskan untuk tidak makan menu apapun yang terbuat dari bahan dasar hiu. Siapapun bisa ikut berperan dalam kampanye ini. Tidak harus terjun langsung ke lapangan, atau demo restoran/supermarket yang menjual hiu. Cukup dengan menyampaikan informasi akan bahaya mengkonsumsi ikan hiu atau sedikit bercerita mengenai dampak apabila populasi hiu semakin menurun kepada teman/relasi untuk membangun kesadaran mereka, itu sudah merupakan  langkah kecil untuk berperan aktif dalam #SaveSharks

Hashtag #SaveSharks sendiri hanya sebagian kecil dari aksi nyata yang kami lakukan. Tapi dari hashtag ini, sudah cukup banyak orang-orang yang mengerti akan pentingnya hiu dan bahanya mengonsumsi makanan berbahan dasar hiu hingga memutuskan untuk tidak memakannya lagi. Petisi online #SaveSharks di website Change.org juga salah satu aksi untuk kampanye ini. Dan sudah lebih dari 1,680 orang menandatangi petisi ini! Kami percaya pada perubahan yang dimulai dari langkah-langkah kecil, oleh karena itu kami melakukan kampanye ini. Sekarang semuanya kembali lagi pada konsumen, sudah siapkah kita menjadi konsumen yang bijak dan tidak memesan serta mengonsumsi makanan berbahan dasar hiu?

More about Save Sharks, just click www.seashepherd.org

Sebagai tambahan aja ya, menurut yang saya baca, pada 20 Februari 2013 di Waisai, Pemda Kabupaten Raja Ampat menetapkan kawasan perairan Kabupaten Raja Ampat menjadi kawasan perlindungan hiu dan pari manta pertama di Indonesia. Kawasan ini luasnya 46.000 km2 dan menjadi kawasan segitiga terumbu karang dunia (coral triangle). Penetapan ini diatur melalui PERDA nomor 9 tahun 2012 tentang Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, dan jenis-jenis ikan tertentu. Raja Ampat terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang dengan 75% jenis terumbu karang di dunia (533 jenis) dan 1.437 jenis ikan karang. Kabupaten Raja Ampat memulai perlindungan terhadap ikan  hiu, pari manta, dan beberapa jenis biota laut lainnya tahun 2010 dengan surat edaran bupati no. 430/07/2010. Isi surat edarannya adalah: Raja Ampat adalah kawasan konservasi atau suaka hiu, serta melarang eksploitasi ikan hiu, pari manta, penyu, dugong.

Semoga artikel ini bisa memberi pemahaman yang cukup jelas ya. Bagi yang belum pernah makan sirip hiu, jangan pernah tertarik untuk memakannya karena terkandung merkuri yang jumlahnya melebihi batas aman yang tentu aja, bahaya banget buat tubuh kita. Yang udah terlanjur, jangan dilakuin lagi ya 🙂