Maraknya Penangkapan Hiu.

catsfdfMaraknya penangkapan hiu untuk diambil siripnya akhir-akhir ini mengundang perhatian berbagai media dan para aktivis sosial. Bahkan, kampanye #savesharks sebagai penolakan terhadap penangkapan yang membuat jumlah populasi hiu itu berkurang dan mengganggu ekosistem alam mulai didukung banyak orang. Emang sih, saya bukan ahlinya dalam bidang ini, maka dari itu, saya izin men-copas tulisan dari Josefine Yaputri ini sebagai salah satu upaya saya menyebarkan pendalaman akan hiu:

#SaveSharks: Bukan Sekadar Hashtag

Oleh: Josefine Yaputri

Why #SaveSharks? Pertanyaan ini seringkali muncul dan mengarah pada saya, sebagai salah satu orang yang cukup gencar ikutan kampanye penyelamatan hiu. Sekadar informasi, kampanye ini diawali oleh Divemag Indonesia dan Riyanni Djangkaru dengan ikon Itong atau Hiu Tonggos yang menggemaskan. Denganhashtag #SaveSharks amat terkenal di Twitter, saya pada akhirnya bergabung dengan misi ini untuk Nescafe Journey 2.

Kenapa hiu? Kenapa bukan hewan lain? Bagi yang belum tahu, hiu sendiri adalah predator utama dalam rantai makanan ekosistem laut, sehingga hiu memegang peranan yang sangat penting. Tanpa adanya hiu, keseimbangan ekosistem secara total menjadi sangat terganggu. Jumlah hiu turut mempengaruhi jumlah spesies-spesies yang di bawahnya dalam rantai makanan. Singkatnya, bila jumlah hiu berkurang terus-menerus, kemungkinan kita untuk makan seafoodenak akan menjadi sangat kecil. Nggak mau, kan?

Hiu yang selama ini dianggap sebagai hewan laut yang buas dalam film-film nyatanya nggak seseram itu. Buktinya, para diver/penyelam bisa berenang bersama hiu dengan aman dan biasa saja, seperti ikan-ikan lain dan nggak mengganggu kami sama sekali. Dan menurut hasil penelitian, jumlah manusia yang terbunuh karena diserang hiu setiap tahunnya hanya dua belas, sementara jumlah hiu yang diburu manusia tiap tahunnya mencapai lebih dari 100 juta! Hiu-hiu ini diburu karena daya jualnya yang tinggi. Siripnya diburu untuk sup yang katanya bergizi, padahal nggak ada rasanya dan mengandung merkuri 40 kali di atas batas aman! Yang lebih menyedihkan lagi, di kota-kota besar di Indonesia, kuliner daging hiu menjadi tren untuk disajikan bareng nasi goreng, sate, dll. Konsumen yang nggak bijak tentu langsung ikut-ikutan dan makan ini semua tanpa memikirkan dampaknya. FYI, merkuri dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker dan penyakit Minamata yang menyebabkan kecacatan juga masalah saraf. Seram nggak, tuh?

#SaveSharks bukan sekadar gerakan yang membicarakan tentang “Ayo kita sama-sama selamatkan hiu!” saja. Kampanye ini lebih dari itu. Semua orang yang getol mengampanyekan #SaveSharks turut berkontribusi dalam penyelamatan lingkungan. Kita riset bareng-bareng dan melakukan aksi nyata untuk menghentikan perburuan hiu. Sosialisasi langsung ke masyarakat juga kita lakukan, terlebih karena masyarakat sebagai konsumen utama yang memesan menu hiu menjadi alasan mengapa perburuan hiu masih ada. Kita nggak hanya melakukan pencerdasan atau sosialisasi massa lewat media sosial seperti Twitter. Beberapa teman yang berprofesi sebagai guru bahkan melakukan sosialisasi #SaveSharks kepada murid-muridnya hingga mereka menjadi lebih peduli dan memutuskan untuk tidak makan menu apapun yang terbuat dari bahan dasar hiu. Siapapun bisa ikut berperan dalam kampanye ini. Tidak harus terjun langsung ke lapangan, atau demo restoran/supermarket yang menjual hiu. Cukup dengan menyampaikan informasi akan bahaya mengkonsumsi ikan hiu atau sedikit bercerita mengenai dampak apabila populasi hiu semakin menurun kepada teman/relasi untuk membangun kesadaran mereka, itu sudah merupakan  langkah kecil untuk berperan aktif dalam #SaveSharks

Hashtag #SaveSharks sendiri hanya sebagian kecil dari aksi nyata yang kami lakukan. Tapi dari hashtag ini, sudah cukup banyak orang-orang yang mengerti akan pentingnya hiu dan bahanya mengonsumsi makanan berbahan dasar hiu hingga memutuskan untuk tidak memakannya lagi. Petisi online #SaveSharks di website Change.org juga salah satu aksi untuk kampanye ini. Dan sudah lebih dari 1,680 orang menandatangi petisi ini! Kami percaya pada perubahan yang dimulai dari langkah-langkah kecil, oleh karena itu kami melakukan kampanye ini. Sekarang semuanya kembali lagi pada konsumen, sudah siapkah kita menjadi konsumen yang bijak dan tidak memesan serta mengonsumsi makanan berbahan dasar hiu?

More about Save Sharks, just click www.seashepherd.org

Sebagai tambahan aja ya, menurut yang saya baca, pada 20 Februari 2013 di Waisai, Pemda Kabupaten Raja Ampat menetapkan kawasan perairan Kabupaten Raja Ampat menjadi kawasan perlindungan hiu dan pari manta pertama di Indonesia. Kawasan ini luasnya 46.000 km2 dan menjadi kawasan segitiga terumbu karang dunia (coral triangle). Penetapan ini diatur melalui PERDA nomor 9 tahun 2012 tentang Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, dan jenis-jenis ikan tertentu. Raja Ampat terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang dengan 75% jenis terumbu karang di dunia (533 jenis) dan 1.437 jenis ikan karang. Kabupaten Raja Ampat memulai perlindungan terhadap ikan  hiu, pari manta, dan beberapa jenis biota laut lainnya tahun 2010 dengan surat edaran bupati no. 430/07/2010. Isi surat edarannya adalah: Raja Ampat adalah kawasan konservasi atau suaka hiu, serta melarang eksploitasi ikan hiu, pari manta, penyu, dugong.

Semoga artikel ini bisa memberi pemahaman yang cukup jelas ya. Bagi yang belum pernah makan sirip hiu, jangan pernah tertarik untuk memakannya karena terkandung merkuri yang jumlahnya melebihi batas aman yang tentu aja, bahaya banget buat tubuh kita. Yang udah terlanjur, jangan dilakuin lagi ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s