0

HIV, Apa Tuh?

HIV adalah kependekan dari Human immunodeficiency Virus adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun. HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan.

Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:

Tahap 1: Periode Jendela
– HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
– Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
– Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
– Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu – 6 bulan

Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
– HIV berkembang biak dalam tubuh
– Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
– Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
-Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
– Sistem kekebalan tubuh semakin turun
– Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
– Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

Tahap 4: AIDS
– Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
– berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

GEJALA

Terdapat 5 stadium penyakit AIDS, yaitu

1. Gejala awal stadium infeksi yaitu :

Demam, kelemahan, nyeri sendi menyerupai influenza/nyeri tenggorokan, pembesaran kelenjaran getah bening.

2. Stadium tanpa gejala: stadium dimana penderita nampak sehat, namun dapat merupakan sumber penularan infeksi HIV.

3. Gejala stadium ARC:

– Demam lebih dari 38°C secara berkala atau terus

– Menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan

– Pembesaran kelenjar getah bening

– Diare mencret yang berkala atau terus menerus dalam waktu yang lama tanpa sebab yang jelas

– Kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik

4. Gejala AIDS:

– Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh darah kapiler) juga adanya kanker kelenjar getah bening.

– Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya pneomonia, pneumocystis,TBC, serta penyakit infeksi lainnya seperti teksoplasmosis dsb.

5. Gejala gangguan susunan saraf:

– Lupa ingatan

– Kesadaran menurun

– Perubahan Kepribadian

– Gejala–gejala peradangan otak atau selaput otak

– Kelumpuhan

Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di: http://id.wikipedia.org/wiki/HIV

Atau, kamu bisa membaca perkembangan seputar HIV lewat akun-akun twitter berikut ini:

@fighthivindc@HIVForum@CDC_HIVAIDS@aidsactions@HIVStoryProject,

@AIDS_United,  @AIDSmeds@AIDSConnect@AIDSHealthcare@GreaterThanAIDS,

@TheHIVTrap ‏@UNAIDSciencenow‏@AIDSinfo.

Ada beberapa bacaan yang bisa kamu pelajari buat nambah wawasan tentang HIV:

– New draft recommendations for HIV testing http://trap.it/qLJCBB

– Dari @MinorityHealth: People who are living with HIV can find the info they need about flu season here: http://www.cdc.gov/flu/protect/hiv-flu.htm

– Apakah ada perbedaan jenis-jenis test HIV? Pelajari disini: http://www.cdc.gov/flu/protect/hiv-flu.htm

– Kasus bayi yang lahir dengan HIV dapat disembuhkan: http://health.kompas.com/read/2013/03/04/12011455/Bayi.Lahir.dengan.HIV.Berhasil.Disembuhkan

dan sains dibaliknya: http://sains.kompas.com/read/2013/03/04/17514065/Sains.di.Balik.Bayi.yang.Sembuh.dari.HIV

– Dari @AIDSinfo: Learn more about the educational materials offered by @AIDSinfo, including fact sheets and our HIV/AIDS glossary: http://aidsinfo.nih.gov/education-materials and learn about nutrition/food safety for HIV-infected people on our Health Topics page: http://aidsinfo.nih.gov/hiv-aids-health-topics/77/nutrition-food-safety

– Dari @TIMEHealthland: Though more teens are aware of AIDS, too few know their own HIV status: http://healthland.time.com/2012/11/28/youth-more-aware-of-aids-but-too-many-still-dont-know-their-hiv-status/

– Are you looking for info on how to reduce the risk of transmitting HIV to your baby? http://aidsinfo.nih.gov/contentfiles/Perinatal_FS_en.pdf

Silahkan dibaca, semoga bermanfaat 😀

Sumber: http://hanifatunnisaa.wordpress.com/2012/08/24/definisi-sejarah-gejala-cara-penularan-dan-pencegahan-penyakit-hiv-aids/

HIV-ribbon

0

Iris Biru.

Iris Biru

 

            Ibu selalu bilang bahwa hujan adalah pertanda. Entah baik atau pun buruk. Ibu sendiri sebenarnya tidak percaya, hujan kan rezeki dari Tuhan, tetapi sugestid ari nenek terus saja melekat pada ibu. Katanya, mitos itu turun-temurun selalu diceritakan kepada keluarga, seperti ibu yang sekarang secara tidak langsung ikut menanamkan sugesti padaku. Maka dari itu, tiap hujan turun, kami sekeluarga pasti akan menduga-duga apa yang akan terjadi setelahnya. Agak tidak masuk akal memang, tetapi sugesti itu ternyata sulit sekali dihilangkan. Walaupun setahuku mitos tidak pernah melambangkan pertanda baik atau buruk, paling-paling hanya, jika turun hujan tetapi cuaca cerah berarti sedang ada kuntilanak melahirkan. He? Orang sudah meninggal kok bisa melahirkan lagi? Tidak masuk akal. Ibu bilang hujan juga turun saat nenek meninggal, yang menandakan hujan saat itu menandakan pertanda buruk. Aku ingat sekali aku menangis sejadi-jadinya, tak rela melihat jasad nenek ditimbun tanah. Sejak saat itu pula, sugesti itu makin kuat, bahwa hujan memang melambangkan pertanda buruk.

Sama seperti hari ini. Hari ini sedang hujan, disertai angin kencang dan petir yang tak henti-hentinya menyambar, pikiranku sudah menebak-nebak pertanda apakah ini. Tiba-tiba, seorang lelaki gemuk, dengan kumis tebalnya yang sudah mulai memutih, membuka pintu kelasku. Pak Gunawan, namanya. Ia adalah kepala sekolahku. Rupanya, ia tak sendiri, ia bersama 2 lelaki. Satunya bertubuh tegap dengan wajah sangar, dengan seragamnya yang seperti seragam tentara. Dan, satunya lagi bertubuh tinggi dan agak gemuk, tapi tampan. Ada satu kejanggalan di mata lelaki bertubuh tinggi ini. Tatapan matanya kosong. Seolah jiawanya sedang berada di tempat lain, sekalipun raganya sedang berhadapan denganku.

“Permisi, Ibu. Saya hendak mengantarkan seorang murid baru, pindahan dari Jakarta.

Namanya Asha Abhirama.” ujar kepala sekolahku.

‘Wah, nama yang bagus.’ ujarku dalam hati.

“Asha, ayo, perkenalkan dirimu.” suruh lelaki bertubuh tegap.

“Aku…Asha.” sembari menggoyangkan tubuhnya dan memainkan bunga-bunga kering yang ia genggam.

“Beritahu mereka kapan kamu lahir.” lanjut lelaki bertubuh tegap.

Ada kejanggalan luar biasa melihat seorang murid baru yang tatapan matanya kosong, yang memainkan bunga kering saat sesi perkenalan baru saja dimulai, yang selalu ditemani seorang…uhm, entahlah, nampak seperti seorang ajudan? Dan harus selalu menerima perintah terlebih dahulu dari  sang lelaki bertubuh tegap. Ada sesuatu yang aneh dengan murid baru ini. Apa dia sakit? Pikirku, bertanya-tanya sendiri.

Melihat wajahku yang berkerut bingung daritadi, sang lelaki bertubuh tegap menghampiriku dan berbisik,

“Maaf, Asha adalah anak autis. Tapi tenang saja, kau tidak perlu khawatir, aku menjaganya.”

GLEK. Seorang anak autis. Bersekolah di sekolah yang sama denganku. Ditempatkan di kelas yang sama denganku. Aku menggebrak mejaku pelan, menghampiri sang kepala sekolah. Belum sempat aku bicara, ia sudah menyuruhku untuk keluar.

“Ayo, kita bicarakan di ruang bapak saja.”

Aku benar-benar marah. Aku bahkan tidak mau duduk di ruang kepala sekolah. Aku tetap berdiri. Sepertinya, ia menyadari bahwa perbuatannya telah membuat salah satu muridnya marah besar. Dan, memaklumi tingkah laku muridnya yang tergolong kurang sopan ini.

“Bapak tahu…bapak tahu…maafkan bapak.”

“Bapak menerima seorang anak autis di sebuah sekolah ‘normal’? Apa yang sebenarnya bapak pikirkan?!”

“Sabar, dengarlah penjelasan bapak. Kau tahu, ibunya benar-benar sudah kehilangan harapan. Tidak ada satu sekolah pun yang mau menerimanya.”

“Tentu saja! Anak seperti dia sudah seharusnya disekolahkan di sekolah berkebutuhan khusus.”

“Dari kecil, Asha sudah disekolahkan disana, nak. Tetapi, tetap saja, saat ia sudah berada di lingkungan ‘normal’, ia diajuhi oleh masyarakat. Seolah anak autis menyeramkan dan tak pantas ditemani. Tapi ibunya makin sadar bahwa Asha tak selamanya harus begitu. Asha tetap harus mandiri. Asha harus belajar bersosialisasi dengan orang-orang ‘normal’ agar jika tiba waktunya orang tuanya tidak dapat mengurusnya lagi, ia bisa berdiri sendiri.”

“Apa bapak tidak memikirkan konsekuensi akibat keputusan yang bapak ambil ini?”

“Bapak tahu, bapak sudah memperkirakannya dari awal. Akan banyak guru-guru, wali murid, dan dari kalangan murid-murid sendiri yang menentang keputusan bapak. Tapi, tidak ada salahnya memberi kesempatan, kan? Sekarang kembali lah ke kelasmu, belajar yang benar. Ajudan Asha sudah memastikan bahwa Asha tidak akan mengganggu kalian.”

Dengan kesal, aku melangkah keluar. Sembari tetap mengomel. Apa kepala sekolahku gila? Apa aku disamakan dengan seorang anak autis? Konyol. Hujan hari ini kuresmikan sebagai pertanda buruk. Anak autis itu datang, ini benar-benar buruk.

Asha duduk persis bersebrangan dengan bangkuku. Dengan ketus, aku berkata,

“Sana. Aku mau duduk.”

Dia hanya tertawa. Ajudannya dari kejauhan memandangiku dengan sorot mata tajam. Mungkin takut tiba-tiba aku mendorongnya, atau ia yang mendorongku. Entahlah, mungkin ajudannya sama anehnya dengan Asha. Kutatap balik pandangannya, lebih tajam. Sampai akhirnya ia yang lebih dulu memalingkan wajah dariku.

“Apa yang kau bicarakan dengan kepala sekolah?” tanya teman sebangkuku.

“Kau tahu tidak, Asha adalah seorang anak autis.” bisikku dengan wajah cemberut.

“Hah?! Yang benar saja? Bagaimana bisa…”

Sudah bisa dipastikan reaksi teman-temanku akan sama seperti diriku. Kaget. Semua orang akan tercengang mendengar berita ini. Sesekali kulirik Asha yang duduk pas bersebrangan denganku.

“Dasar autis.”

Di saat pelajaran berlangsung, Asha hanya diam. Tidak banyak bicara.

“Sekarang kita bahas tentang kekaisaran Romawi, siapakah kaisar pertama Romawi?” tanya guru sejarahku.

Sekelas hening. Malah asyik bermain sendiri, ada yang mengunyah permen karet, membaca komik atau tertidur. Asha tertawa dan menjawab,

“Oktavianus, bu!” lalu tertawa lagi.

Setelah itu, dia keluar kelas. Tanpa izin pada guru yang sedang mengajar. Sang ajudan mengikutinya dari belakang. Apa yang sebenarnya ia tertawakan? Anak aneh. Ya, walaupun ia pintar, tapi sayang, menyebalkan. Oh, dan seperti yang aku sebutkan tadi, aneh. Sangaaaaat aneh.

***

            Tiap harinya, aku selalu bersikap ketus pada Asha. Menatapnya saja enggan. Malah, aku sengaja berganti posisi duduk agar tidak perlu duduk berdekatan dengan Asha. Autis menyeramkan. Tidak bisa dikontrol. Pernah sekali anak-anak lelaki di kelas mengganggunya, ia marah besar. Ia membanting apapun yang ada di atas meja. Autis selalu bertindak sesuka hati. Menyebalkan. Berisik. Omongannya selalu saja hal-hal yang sama. Tertawa terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya menurutku sama sekali tidak lucu. Daniel Gotlieb pernah menulis sebuah buku berjudul Letters To Sam, ia mengatakan bahwa kebanyakan orang melihat anak autis sebagai masalah, masalah besar. Bukan manusia. Tapi, tidak, aku tidak mengatakan bahwa ia bukan manusia. Hanya…ah, entahlah, ada perasaan kesal dari awal dia masuk ke sekolah. Tidak seharusnya ia berada disini. Tempatku dan tempatnya sudah jelas harus berbeda. Aku ‘normal’, dan dia autis. Berbeda, kan?

***

2 bulan berlalu. Aku sama sekali tidak berbicara pada Asha. Malas. Lagipula, apa yang dapat dibicarakan dengan seorang anak autis? Namun, suatu hari, Asha tiba-tiba duduk di sampingku. Tetap seperti biasanya, memainkan bunga kering yang entah ia dapat darimana. Pernah sekali aku melihatnya membawa bunga, tetapi bukan bunga kering, warnanya biru. Cantik. Kemungkinan bunga itulah yang lama kelamaan layu dan menjadi kering.

“Maafin Asha ya, Aruna.” katanya.

“Lho? Memang kamu salah apa?” sengaja kujebak dengan pertanyaan seperti itu, benarkah dia menyadari kesalahannya? Ataukah ia sedang bermain drama?

“Kata mama, banyak orang yang tidak bisa menerima Asha. Kata mas Reza, Aruna marah karena Asha bersekolah disini.”

“Mas Reza itu siapa?”

Ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah sang ajudan bertubuh tegap yang sedang berdiri di depan pintu itu. Ooh, namanya mas Reza. Baru sadar bahwa aku benar-benar tidak pernah membuat kontak dengan mereka berdua. Bagaimana bisa membuat kontak jika memandangnya saja aku sudah naik darah.

“Kamu tahu darimana namaku Aruna?”

Ia berbicara dengan terbata-bata, kadang mengulang kata-kata yang sama, kadang dengan jeda yang agak lama. Oh, dan satu lagi, ia tidak membuat kontak mata denganku saat sedang berbicara. Walaupun sangat bosan menunggunya bicara, tapi aku cukup maklum. Sepengetahuanku, anak autis memang seperti itu. Tapi rupanya rasa penasaranku lebih besar dibanding kebosananku.

“Dari mas Reza. Mas Reza bilang nama kamu sama bagusnya kayak nama Asha.”

“Ooh, memangnya nama Asha mengandung arti apa?”

Sebenarnya aku agak curiga juga seorang anak autis bisa berbicara serius seperti ini. Curiga telah ada naskah yang sudah disiapkan terlebih dahulu.

“Harapan yang menyenangkan. Kata mama, saat mama sedang mengandung Asha, mama selalu berharap agar Asha jadi anak kebanggaan mama. Karena saat itu, mama senang sekali akhirnya keinginan mama mempunyai anak terwujud.”

Aku terdiam lama sekali. Mataku berkaca-kaca. Mendadak terharu. Sedih. Menyesal. Bercampur jadi satu. Nampaknya sikapku sudah keterlaluan. Bukan nampaknya lagi, memang seperti itulah kenyataannya.

“Asha, maafin Runa, ya.”

Ia menoleh sebentar, mengangguk, lalu melenggang pergi. Aku masih diam, menyesali perbuatan yang telah kulakukan padanya. Pikiran negatifku selama ini ternyata salah. Perkataannya tadi seolah menamparku. Meskipun tetap saja ada kecurigaan ada seseorang di belakangnya yang sengaja menyuruhnya melakukan hal tersebut.

***

            Setelah hari itu, aku jadi lebih sering memperhatikan Asha. Aku memperhatikan dengan rinci, apa yang membuat Asha marah, apa yang membuat Asha tertawa, apa yang membuat Asha bosan, apa yang Asha sukai. Jadi begini, Asha marah jika dibentak atau diganggu. Asha akan tertawa dalam segala hal yang menurutnya lucu, sekalipun tidak lucu bagi kita. Atau saat ia bisa menjawab suatu pertanyaan. Asha bosan jika sedang pelajaran geografi. Bukan hanya Asha, seisi kelas pun bisa terlelap jika sedang pelajaran geografi karena gurunya yang benar-benar membosankan. Asha suka bunga kering. Asha suka hujan. Tiap kali hujan turun, Asha pasti berteriak kegirangan, lalu bermain hujan-hujanan. Pernah sekali mas Reza menarikku untuk ikut menemani Asha bermain hujan. Katanya, kesenangan anak autis itu berbeda-beda. Asha, ia menemukan kesenangannya pada hujan, bunga kering, memasak dan musik. Sebelum-sebelumnya aku tidak pernah bermain hujan. Baiklah, tidak apa-apa jika hujan saat itu berupa pertanda baik. Kalau buruk, bagaimana? Uh, bermain di bawah hujan pertanda buruk, jangan-jangan aku bisa tertimpa hal buruknya. Ini kali pertamaku bermain hujan. Entah ada dorongan apa dari dalam diriku yang memaksaku menemani Asha. Aku berdiri di sebelahnya, mengamati kedua kelopak matanya. Mata yang dulu kusebut penuh tatapan kosong, sekarang telah berganti. Keceriaan, luapan bahagia tersorot dari dalam matanya. Mungkin bukan ia yang berubah, tapi cara pandangku lah yang berubah. Aku tidak benci Asha. Sama sekali tidak. Sejak hari itu, tiap kali turun hujan, pikiranku bukanlah tentang pertanda buruk atau baik lagi. Tapi langsung terbesit Asha. Bagaimana hal kesukaannya membuatku menyukai hal itu juga. Bermain di tengah hujan. Hujan yang selalu aku kaitkan dengan pertanda buruk, kini menjadi salah satu hal kesukaanku juga. Apakah sekarang aku selalu mengikuti apa yang menjadi kesukaan Asha? Entahlah. Tapi, ia benar-benar telah merubah persepsiku akan hujan.

Mengobrol dengan Asha sekarang selalu terasa menyenangkan, walaupun lebih sering tidak sesuai dengan apa yang kumaksud. Kadang aku bertanya, “Apa Asha punya adik?”. Dan, dia akan menjawab, “Ya, Asha suka makan mie!” Aku hanya tertawa cekikikan, bagaimana bisa dia menjawab sampai sejauh itu. Jarang kami bisa mengobrol serius. Asha tidak tahu nama siswa-siswi di kelas. Asha tahu namaku, dia tahu aku ini Aruna Arkananta, tetapi hanya ‘tahu’. Tidak hafal. Seringkali tiap aku bertanya, “Coba tebak siapa namaku?” dia akan menggeleng mengatakan tidak tahu.

Penasaran akan keluarga Asha dan latar belakangnya, aku meminta izin pada mas Reza untuk ikut bermain ke rumah. Hanya perlu berkendara 15 menit dari sekolah. Ia tinggal di kompleks rumah dinas tentara. Ternyata ayah Asha adalah seorang tentara, ajudan ini pasti anak buahnya. Sesampainya disana, aku sempat kaget juga saat mama Asha menyuruhnya masak makan siang sendiri. Heh, kukira anak autis itu manja dan selalu bergantung pada orang lain? Mas Reza menepuk pundakku, berkata bahwa masakan Asha kadang lebih nikmat dibandingkan masakan mamanya. Meyakinkanku bahwa Asha bisa melakukannya sendiri. Dari ucapannya, terdengar seperti mas Reza sedang membuktikan bahwa pikiranku tentang seorang anak autis manja adalah salah besar.

“Asha, Asha suka masak ya?” tanyaku sesampainya di dapur.

“Iya, tolong ambilkan bumbu spaghetti di kulkas dong.”

“Tunggu sebentar ya, aku ambilin dulu.”

Keluarga Asha benar-benar sabar menghadapi Asha. Mereka memperlakukan Asha dengan baik, mereka tetap menginginkan Asha mandiri. Tidak bergantung kepada orang lain. Hebat. Aku terkagum-kagum melihat Asha memasak. Kukira seorang anak autis tidak bisa melakukan hal-hal yang orang ‘normal’ lakukan.

“Eh, Aruna jangan dekat-dekat dengan kompor. Nanti kena percikan minyak, panas.” larang Asha sambil membuat penghalang dari tangannya agar aku tidak mendekat.

Satu poin lagi bertambah untuk Asha, dia perhatian. Eh, 2 poin maksudku. Yang kedua adalah karena ia hafal namaku.

Selesai makan, kami berkumpul di ruang tengah.

“Mas Reza, ini gitar punya siapa?” tanyaku, melihat sebuah gitar berwarna coklat dengan garis-garis biru.

“Itu gitar milik Asha.”

“Asha bisa main gitar?!” jeritku histeris.

“Iya, dia sudah pinter lho mainnya. Dari kecil udah les gitar sih. Asha, coba mainin satu lagu buat Aruna.” ujar mas Reza.

Petikan-petikan senar mengalun lembut, memainkan salah satu lagu lawas dari Extreme yang sempat dinyanyikan ulang oleh boybang Westlife itu, More Than Words. Aku tanpa sadar ikut bernyanyi, mengikuti alunan musik yang Asha buat.

            More than words…is all you have to do to make it real

            Then you wouldn’t have to say…that you love me

            Cos I’d already know

***

            Baru saja pulang dari rumah Asha, tanpa berganti pakaian terlerbih dahulu, aku segera menyalakan komputerku. Kutulis keyword ‘Apa itu autis’ di kotak pencarian google. Klik. Hmm, banyak definisi tentang autis kucoba buka situs itu satu persatu. Yak, dapat! Aku tenggelam dalam bacaanku sendiri. Masih belum puas, kucari bacaan mengenai autis dari situs lain. Aku menemukan sebuah situs berisikan sebuah artikel dari Stuart Duncan, membahas tentang ‘Autism from a father’s point of view’. Disana ia menuliskan sebuah puisi berjudul If My Child Was A Flower.

If my child was a flower… would he realizes that he was different from the other flowers?

Would he knows that he looked the same and yet didn’t fit in with the rest?

Would he knows that his scent was a little different from the others, that he was a little less vibrant, a little less tall and sturdy?

Would he knows that even though he is mostly the same that he is different enough for some people to think he is a weed?

If my child was a flower… would he wishes that he could be in a flower pot by himself?

Would he wishes that the other flowers didn’t seem so foreign to him?

Would he questions the soil in which he lives?

Would he questions whether or not his water is different?

Would he blames the sun?

If my child was a flower… would he hates being stuck where he is? Mixed in among the rest of the flowers, invisible yet obviously different.

Would he knows that he will be the last one picked?

Would he knows that most of the flowers don’t want him there?

Would he cares?

If my child was a flower… he’d be the only flower in the group with a hidden element, a special property… the one compound that could be harvested and made into a healing agent.

He’d be the only flower in the group that could help the blind to see, help the unloved to feel loved, to help the lost to be found.

Will he ever be given the opportunity?

Will someone love him enough to discover what is hidden deep within him?

If my child was a flower… he would be a very special flower indeed.

Ya, Asha akan jadi bunga yang paling istimewa. Pasti. Masih dengan rasa penasaran untuk mengetahui lebih banyak tentang autis, kucari lagi berbagai sumber dari internet, salah satunya tentang bunga apa yang selalu Asha bawa. Kata mas Reza, nama bunga itu iris biru. Aku yang awam ini malah baru pertama kali mendengarnya. Jadi, dalam bahasa Yunani, Iris berarti ‘pelangi’. Bunga ini dianggap melambangkan arti kesetiaan, kebijaksanaan, persahabatan, dan harapan. Harapan, Asha. Asha dan bunga iris biru memang cocok. Mereka sama-sama melambangkan harapan. Masih dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, kubuka lagi tab-tab baru mengenai artikel tentang autisme. Disana aku menemukan bahwa, ‘Anak yang mengalami autisme mungkin akan bertingkah seolah-olah tidak sadar akan kedatangan dan kepergian orang lain’. Entah mengapa, setelah membaca kalimat itu, mendadak rasa penasaranku tergantikan oleh kesedihan. Menyadari bahwa sebenarnya Asha tidak pernah sadar akan kehadiranku setiap harinya, membuatku ingin menangis. Jadi, selama ini, bagaimana aku di matanya? Bagaimana jika aku dan Asha berpisah? Dia tidak akan mengingatku, dia tidak akan sadar akan kepergianku. Lalu, bagaimana dengan keseharian kami bersama? Apa ia tidak akan mengingatnya juga? Aku kan yang selalu menemaninya, dia tidak seharusnya tidak mengingatku! Tapi…ah, yasudahlah. Terserah saja. Hey, apa aku suka padanya? Tidak. Pasti tidak. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada seorang anak autis. Tapi, jika seperti itulah kenyataannya, bagaimana? Bukankah seorang anak autis pun berhak mendapatkan kasih sayang layaknya manusia lain? Bukankah kita tidak bisa memilih pada siapakah kita akan jatuh cinta?

Pertanyaan itu menghantuiku beberapa malam ini. Lelah memikirkannya, aku pergi ke tempat penyewaan DVD. Ingin melepas penat.

“Mas, ada DVD bagus gak? Tapi film Indonesia.”

Entah lelaki penjaga toko ini perantara dari Tuhan atau bagaimana, seolah tahu isi hatiku, ia mengatakan,

“Ada, mbak! Rectoverso! Salah satu filmnya menceritakan tentang seorang anak autis yang jatuh cinta, mengharukan.” jawabnya semangat.

Tak kalah semangat, kupinjam DVD itu, berharap dapat jawaban akan pertanyaanku beberapa malam ini.

Yak, mulai… Kuputar film itu di DVD Player-ku. ‘Perhatikan film ini baik-baik, Runa.’ ujarku pada diri sendiri. Lukman Sardi memernkan peran seorang lelaki autis yang tinggal bersama ibunya. Lalu, datang Prisia Nasution yang berperan menajdi perempuan yang akhirnya berhasil membuat Lukman Sardi jatuh cinta. Ooh, berarti kemungkinan seorang anak autis dapat jatuh cinta itu bisa saja terjadi. Bisa saja terjadi. Ya, betul, bisa terjadi. …..Heh?! BISA TERJADI? Kumatikan segera televisiku. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan.

“Oh, bagus. Selamat Runa, kamu mendapatkan jawabannya. Kamu telah jatuh cinta pada Asha.”

Aku pusing sendri memikirkan segala kemungkinan itu, tapi mengingat bahwa Lukman Sardi saja bisa jatuh cinta, kenapa Asha tidak?

“Kalau begitu, berarti ada kemungkinan bahwa Asha akan suka padaku juga.”

Memikirkan kemungkinan itu, senyumku mulai mengembang. Ini pasti anugerah dari Tuhan.

Ternyata cinta memang hadir pada tiap diri seseorang. Ia tidak memandang apakah kau ini normal, autis, atau mengidap penyakit apapun. Ia tidak peduli kau ini tinggi atau pendek, kurus atau gemuk, berkacamata atau tidak, dan hal-hal lainnya. Itu hal sepele. Banyak dari kita malah sibuk membuat kriteria macam-macam untuk siapa yang pantas untuk kita cintai, membuang waktu percuma. Kita bahkan terlalu sibuk memilah-milih siapa yang pantas untuk kita cintai, tanpa menyadari bahwa sebenarnya cinta sudah hadir sejak awal. Ia sudah berlalu lalang di hadapan kita, namun kita yang terlalu acuh tak acuh, tak menyadari keberadaannya.

1 tahun berlalu. Asha, dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda seperti Lukman Sardi dalam film Malaikat Juga Tahu. Aku terus menunggu. Tetapi, tetap saja, dia tidak jatuh cinta. Atau mungkin, tidak semua anak autis dapat merasakan hal yang sama. Tidak untuk Asha. Tidak apa-apa, seperti salah satu kutipan yang pernah kubaca, ‘Autism has taught me that love needs no words.’. Ya, Asha mengajarkanku bahwa cinta tidak membutuhkan ata-kata. Mungkin Asha bukannya tidak merasakan cinta, mungkin ia hanya tidak mengatakannya. Atau, tidak mampu mengatakannya. Tidak segala hal bisa diungkapkan lewat kata-kata. Hanya perlu dirasa. Kecewa memang karena tak mendengar pernyataan langsung dari Asha, membuat kesimpulan sendiri yang entah benar atau tidak. Tapi aku tidak boleh memasang harapan terlalu tinggi, aku sadar, sangat sadar bahwa Asha adalah seorang anak autis. Mungkin hati Asha masih berlayar, mencari tempat berlabuh yang sempurna. Dan, sosok itu bukanlah aku.

***

            Lalu datanglah suatu waktu dimana bagian ini selalu menjadi bagian yang paling kubenci, tiba waktunya untuk berpisah. Perpisahan memang selalu menyakitkan. Begitu pula dengan perpisahan dengan Asha. Perpisahan, mendengarnya saja sudah menyedihkan. Karena perpisahan identik dengan kehilangan. Namun, masa sekolah telah berakhir. Saatnya memulai langkah pembaharuan untuk mencapai mimpi-mimpi yang baru pula. Asha, entah kemana ia akan melanjutkan hidupnya. Asha, entah dia akan tetap mengingatku atau hanya menjadikanku angin lewat. Asha, entah dimana hatinya akan berlabuh nanti. Entah pada siapa, entah kapan, dan entah bagaimana kejadiannya. Yang terpenting, aku tidak akan melupakannya, kan? Karena Asha adalah teman, sekaligus guru terbaik yang pernah singgah ke dalam kehidupanku. Yang mengajarkanku bahwa setiap orang berhak mendapatkan kasih sayang dan cinta, dan mengajarkanku bahwa setiap orang adalah istimewa. Istimewa untukku, tidak selalu istimewa untukmu juga, kan?

“Asha, foto dulu dengan Aruna, sana!” suruh mas Reza.

JEPRET!

Hanya itulah yang tersisa dari Asha. Selembar foto kami berdua. Kutatap sekali lagi foto itu. Aku rindu Asha. Aku benar-benar merindukannya. Walaupun kala rindu menyergap, sesungguhnya aku benar-benar berharap Asha akan datang dan berada di sampingku. Tapi, kenyataan tidak selalu sesuai dengan keinginan, aku hanya dapat memandang foto Asha. Namun, kau tahu tidak bahwa sebuah foto memiliki kekuatan magis di dalamnya? Atau seperti itulah yang aku yakini. Sebuah foto menyimpan berjuta-juta kisah-kisah di masa lampau atau mari kita sebut sebagai kenangan. Tanpa perlu kata-kata dan suara, selembar foto bahkan bisa langsung saja membawamu ke masa lalu. Seperti mesin waktu. Tapi, selembar foto itu selalu diam. Ia tidak membeberkan kisah-kisahmu ke orang lain, ia tahu bahwa kenangan itu sangat berharga bagimu. Ia hanya menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Yah, bagaimanapun, kenangan dan Asha (baca: harapan) selalu hidup berdampingan, bukan? 🙂

*SELESAI*

Ngomong-ngomong, cerita ini gak niat nyontek Rectoverso, ya. Awalnya pas dapet tugas bikin cerpen ini, langsung kebayang mau nulis cerita tentang salah satu temen SMP-ku. Yang kebetulan anak autis juga. Ada beberapa kejadian yang nyata dan ada juga yang fiksi. Lagi iseng aja gitu gugling apa anak autis bisa jatuh cinta, eh keluarnya malahan review tentang rectoverso. Pas dibaca baru ngeh deh.

Oiya, sebagai informasi aja ya, saya menggunakan kata ‘anak autis’ disini untuk menggantikan kata ‘penyandang’ atau ‘penderita’. Karena ada beberapa perdebatan (menurut yang saya baca). Ada yang berpendapat bahwa rasanya kurang pas jika seseorang yang mengalami autisme disebut kata penyadang/penderita autisme. Karena, menurut beberapa orang, autisme bukanlah sebuah penyakit, tidak disebabkan oleh virus, bakteri, atau kuman. Penyebabnya masih belum jelas sampai sekarang. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan, yang kalau sudah terdeteksi dari awal, bisa dimulai dengan cara terapi. Autis bukan penyakit, bukan cacat mental, bukan gila. Apapun panggilannya, stop using the word ‘autism’ for jokes. It’s not funny, AT ALL.

Untuk topik lebih lanjut mengenai autisme dapat dibaca di:

–          http://anak-autism.blogspot.com/2011/02/apa-itu-autism.html

–          http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme

–          http://www.lspr.edu/csr/autismawareness/?page_id=24

–          http://mizan.com/news_det/deteksi-dini-autisme-pada-anak.html

–          Klik Autis.info yang merupakan situs infomasi seputar autisme. Atau, follow @AutismIndonesia dan @PeduliAutisme di Twitter yang merupakan yayasan autisme di Indonesia.

–          http://neverendstory.wordpress.com/2011/04/02/sepenggal-tulisan-memperingati-world-autism-awareness-day/

–          http://terselubung.blogspot.com/2011/07/fakta-tentang-autisme.html

–          http://deebacalah.blogspot.com/2012/01/perbedaan-anak-indigo-dan-anak-autis.html

–          http://news-medical.net/health/What-is-Asperger-Syndrome-(Indonesian).aspx

–          http://acurve.wordpress.com/2011/06/24/checklist-untuk-autisme/

–         http://www.newsilly.com/2011/09/18/kenapa-sih-gak-boleh-becanda-pakai-kata-autis-lu/

–          http://theonlynelly.wordpress.com/2011/06/02/getting-closer-with-autism-a-story-a-to-z-from-justsilly/

–          http://www.autismspeaks.org/what-autism/treatment

–          http://www.autismspeaks.org/what-autism/learn-signs

Sumber gambar : World Autism Awareness Day.